RADAR JOGJA - Zaman dulu lesung bukan hanya tempat menumbuk padi atau gabah menjadi beras. Alat tradisional dari bahan kayu ini ternyata juga sarat dengan mitos. Sebelum menikah, pihak perempuan wajib mendengarkan irama lesung.
Demikian pengakuan seorang ibu warga Padukuhan Sambirejo, Kalurahan Karangmojo, Kapanewon Karangmojo, Gunungkidul Tuminah. Perempuan berusia 71 tahun itu mengatakan, lesung terbuat dari kayu besar berbentuk seperti perahu.
"Panjang sekitar dua meter, bagian tengah dilubangi hingga membentuk cekungan. Dalamnya sekitar 50 centimeter," kata Tuminah saat ditemui Radar Jogja.
Bagian dalam sengaja dibuang agar gabah bisa dimasukkan ke dalam. Padi atau gabah kemudian ditumbuk dengan alu atau tongkat tebal dari kayu. Ditumbuk berulang-ulang sampai beras terpisah dari sekam. "Tapi saya punya pengalaman dan kenangan sangat berkesan tentang lesung," ucap ibu lima anak itu.
Bukan menumbuk padi, tapi lesung digunakan kotekan saat gerhana bulan. Dijadikan sebagai alat musik, dimainkan dengan cara dipukul-pukul menggunakan tongkat kayu atau alu. Meski tidak ada irama khusus, suaranya cukup enak terdengar di telinga. "Saya waktu kecil keluar rumah sambil melihat gerhana mendengar dengan kotekan lesung," jelasnya.
Suasana syahdu malam temaram semakin memecah keheningan malam. Orang-orang kampung keluar dari dalam rumah masing-masing. Biasanya, pemukul kotekan lelaki dan perempuan. "Tapi ada yang lebih berkesan selain kotekan lesung gerhana bulan," jelasnya.
Kata Tuminah, kala itu dirinya akan dipinang oleh seorang laki-laki. Sebelum menikah, ibunya mewajibkannya untuk mendengarkan irama lesung. Sekali lagi, tidak ada pakem irama namun terdengar runtut. "Kata simbok, wajib mendengarkan kotekan lesung agar saat melahirkan anaknya tidak tuli," ucapnya. (gun/laz)
Editor : Satria Pradika