RADAR JOGJA - Tren penggunaan sepeda fixie muncul kembali belakangan ini. Digunakan oleh banyak anak muda untuk mobilitas di tempat yang tidak cukup jauh dari tempat tinggalnya. Misalnya ke kafe atau tempat nongkrong terdekat. Alasannya jelas, untuk mendukung mobilitas lebih praktis daripada harus mengeluarkan moda transportasi lain yang secara fisik lebih berat.
"Sepeda fixie masih sebatas untuk lifestyle generasi muda urban, mengingat penggunaan sepeda fixie sebagai moda transportasi masih dalam jarak dekat, datar, dan belum menjadi moda transportasi utama," beber Sosiolog UWM Puji Qomariyah Jumat (27/10).
Alasannya, lanjutnya Puji, karena sepeda fixie tidak terlalu nyaman. Untuk dikendarai dalam jarak yang agak jauh, lama, dan kontur jalan yang tidak datar.
Meski begitu, penggunaan sepeda fixie di kalangan anak muda tetap menjadi hal yang positif. Sebab mereka menjadi lebih sering bergerak di antara dunia dengan budaya baru yang cukup memprihatinkan yakni malas gerak (mager).
"Untuk kebugaran fisiknya, berkurangnya polusi udara dari pembakaran BBM kendaraan bermotor, saat berkumpul akan membuka ruang dialog lainnya," ujarnya.
Dia menilai, hal yang disayangkan ialah memang belum ada insentif dari pemerintah untuk pengguna sepeda di Jogja. Misalnya ketiadaan tempat parkir yang aman. Hal ini dimungkin karena pemerintah belum memprioritaskan pemakai sepeda.
Menurutnya, ketika beban lalu lintas kota sudah semakin padat kendaraan bermotor. Maka memang harus ada sesuatu yang bisa digunakan untuk menguranginya. Salah satu alternatifnya ialah sepeda.
"Penggunaan sepeda dengan berbagai alasan mulai dari isu pencemaran udara, penyerobotan bahu-badan untuk parkir kendaraan bermotor, kemacetan. Dengan kondisi jalan yang ada, menggunakan sepeda adalah salah satu cara terbaik menikmati Jogja beserta dinamikanya," jelasnya. (lan/eno)