Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bersihkan Beras hingga Menampi Glepung Gaplek

Gunawan RaJa • Minggu, 22 Oktober 2023 | 14:00 WIB

 

BISA UNTUK JEMUR: Seorang warga Purworejo tengah menjemur kerupuk dan kakao menggunakan tampah (20/10).JIHAN ARON VAHERA/RADAR JOGJA
BISA UNTUK JEMUR: Seorang warga Purworejo tengah menjemur kerupuk dan kakao menggunakan tampah (20/10).JIHAN ARON VAHERA/RADAR JOGJA

RADAR JOGJA - Tampah atau panampi merupakan piranti rumah tangga, kebanyakan terbuat dari anyaman bambu. Di Gunungkidul, tampah digunakan untuk menampi (membersihkan) glepung gaplek (tepung singkong) dan menjadi media silaturahmi.


Salah seorang pengguna tampah warga Wonosari mengatakan, hingga kini keluarganya masih menggunakan tampah. Untuk menampi beras dan sesekali digunakan untuk menampi glepung gaplek.


"Saya dari kecil sudah melihat (tampah) milik simbah saya. Ibu saya juga menggunakan tampah, itu piranti di rumah," kata Retnoningsih kepada Radar Jogja Jumat (20/10).
Dia yang juga menjabat Divisi SDM, Organisasi Pendidikan dan Pelatihan Bawaslu Kabupaten Gunungkidul ini melanjutkan, tampah bisa membantu mempercepat pekerjaan dapur. "Menghilangkan gabah di beras. Apalagi yang beras gilingan itu kan banyak gabah," ujarnya.


Dalam satu waktu dirinya juga memfungsikan tampah sebagai media silaturahmi. Caranya, kata Retno, mengundang teman-teman untuk bertemu di satu tempat. Supaya lebih berkesan, menu makannya adalah tiwul. "Nah tampah ini berfungsi sebagai media untuk membuat tiwul," ucapnya.


Di Gunungkidul, menurutnya, budaya sambelan merupakan salah satu alternatif untuk bisa bertemu dan silaturahmi, baik dengan teman lama ataupun komunitas. Salah satu sajiannya adalah tiwul. "Saya juga bisa nginteri (menampi). Tiwul made in saya pokoknya," kelakarnya.


Hal paling berkesan saat menggunakan tampah, dia melanjutkan, ketika mempersiapkan bahan mentah tiwul. Gaplek atau singkong kering sebelum diayak menggunakan tampah dilembutkan terlebih dahulu. "Kita ambil tepungnya yang paling lembut," jelasnya.


Glepung gaplek disuntak (ditaruh) di tampah yang lazimnya berbentuk bulat. Alat dapur tradisional itu ukuranya minimalis. Cara kerja agar mampu menghasilkan tepung lembut yang diinginkan terbilang tidak sulit. "Dipegang menggunakan kedua tangan, lalu diputar. Bisa diputar melingkar ke kanan atau ke kiri," terangnya.


Nanti gerakan memutar tampah secara teratur ini mampu memisahkan antara tepung kasar dan lembut secara otomatis. Bagi yang belum terbiasa, harap berhati-hati karena bisa tumpah ke mana-mana. "Pelan-pelan saja. Paling kotor sedikit nggak apa-apa belepotan warna putih glepung gaplek," ujarnya sembari melepas tawa.


Lebih Alami dan Bebas Bahan Kimia

Di era modern seperti sekarang, tampah bambu atau eblek masih digunakan oleh sebagian besar masyarakat. Termasuk, di Kabupaten Purworejo, utamanya di wilayah pedesaan. Mereka memanfaatkan tampah untuk berbagai hal, sebagai tempat untuk menjemur sesuatu seperti kakao, intip (rengginang), kerupuk dan sebagainya hingga sebagai wadah barang tertentu seperti sayuran.

Baca Juga: Tiga Rekomendasi Destinasi Wisata Jogja yang Bisa Kamu Kunjungi saat Akhir Pekan Bersama Keluarga !


"Dari dulu sampai sekarang saya pakai tampah, sekarang sudah banyak yang berbahan plastik. Tapi rasanya lebih mantap pakai tampah bambu," ungkap salah seorang pemakai tampah bambu warga Desa Donorejo, Kaligesing, Purworejo, Turah, 66, Jumat (20/10).


Dia menceritakan, dulu saat masih muda menggunakan tampah untuk menampi atau mengayak beras. Yaitu untuk memisahkan beras dari kotoran seperti batu kecil hingga kulit padi. Namun, bergesernya zaman hal tersebut sudah jarang dilakukan. "Zaman sekarang beras sudah banyak yang bersih-bersih, putih. Jadi tinggal dipususi atau dicuci lalu dimasak saja," ujar dia.


Saat ini, dia memanfaatkan tampah untuk meletakkan sesuatu barang. "Kalau di sini kan ada makanan khas namanya gembel. Biasanya buat nguleni atau bahasa sini menyebutkan nggangsur pati (pati singkong) untuk buat gembel," sambungnya.


Pemakai lain, Parni, 58, juga menyebutkan hal sama. Dia mengaku lebih menyukai tampah bambu dibandingkan tampah plastik. Selain lebih alami dan bebas dari bahan kimia, jika rusak juga bisa diperbaiki.


"Kalau eblek itu misal ada yang lolos anyaman bambunya, masih bisa diperbaiki. Tampah plastik kalau sudah pecah tidak bisa digunakan," katanya.


Meski demikian, perawatan untuk tampah bambu dirasa lebih rumit. Yakni harus disimpan dalam kondisi benar-benar kering. "Kalau basah bisa berjamur. Jadi usai digunakan, eblek harus dijemur dulu," tandasnya. (gun/han/laz)

Editor : Satria Pradika
#oldies #tiwul #tampah #Gunungkidul #tepung singkong #Purworejo