RADAR JOGJA - Bagi masyarakat Jogja, Sego Berkat dan Sego Rasul mungkin sudah tidak asing lagi. Namun bagi warga luar Jogja, menu yang satu ini cukup istimewa dan masih banyak diburu. Salah satu destinasi kuliner nasi khas Jogja ini ada di Dusun Karangwuluh Lor, Kapanewon Temon, Kulon Progo.
HENDRI UTOMO, Radar Jogja, Kulon Progo
NASI Liwet, sayur pepaya, sayur nangka, serundeng dan kacang tholo ditambah tahu dan tempe itu bersanding dengan telur dan ingkung ayam kampung. Begitu hebat membangkitkan romantisme kuliner masa lalu masyarakat Jogja.
Tidak hanya Jogja, siapa saja yang pernah tinggal di pedesaan Jawa, mungkin juga tidak asing lagi dengan menu kuliner yang satu ini. Kendati setiap daerah, ransumnya berbeda-beda. Menu makanan ini dahulu hanya bisa ditemui ketika ada orang menghelat hajatan atau kenduri.
Nasi ini dibungkus dengan daun jati. Proses memasaknya juga menggunakan tungku kayu bakar, membuat rasa masakan ini menjadi sangat otentik. Sekali mencoba, langsung terkenang makanan khas pedesaan yang istimewa ini.
Destinasi kuliner sekaligus tempat produksi makanan khas Jogja ini berada di Dusun Karangwuluh Lor, Temon, Kulonprogo. Cara mengolahnya masih dijaga seperti aslinya, dimasak secara tradisional. "Pembungkus sego berkat ini tetap menggunakan daun jati, tidak hanya bentuknya tetapi rasanya jadi lebih otentik," ucap pengelola Kuliner Sego Berkat Karangwuluh Lor Desti Puji Lestari.
Menurutnya, jika biasanya untuk menikmati hidangan ini harus menunggu hajatan atau kenduri, di tempat ini coba hadirkan setiap hari. Bebas dinikmati oleh konsumen. "Ya tidak harus menunggu kenduri, kami juga terima pesanan untuk sego berkat dan rasul ini," ujarnya.
Dijelaskan, ide usaha kuliner ini berangkat dari tradisi kenduri yang masih kerap dilakukan masyarakat setempat. Namun ternyata, pengunjung dari luar Jogja banyak yang mencari, sehingga awal pandemi Covid-19 mulai berinovasi, menciptakan menu sego berkat khas jogja.
"Ciri khasnya ya ada kacang tolo, sayur pepaya, serundeng, tahu, tempe, bihun kuning, ingkung dan peyek, bihunnya kuning khas jogja," jelasnya.
Menu kuliner ini semakin merakyat karena harganya yang murah. Menu ini hanya dijual Rp 9.000 per porsi. Jika menginginkan tambahan telur menjadi Rp 13.000 per porsi. Tambah ayam goreng atau suiran ingkung Rp 17.000. "Kami juga sajikan cemilannya jajanan pasar untuk menguatkan destinasi kuliner kami, kami sajikan di atas tampah, ada juga jenang srintil yang berisi berbagai varian jenang yang dijadikan satu," imbuhnya.
Menurutnya, awal pandemi konsumennya justru banyak dari luar Jogja, mereka mengaku penasaran datang untuk menikmati sego berkat atau sego rasul. Sehari bisa terjual 100 porsi lebih, belum pesanan."Bahan baku kami dapatkan dari daerah sekitar sini, seperti pepaya, sayur-sayuran dan nangka muda untuk gudeg juga dari wilayah Temon dan Kokap," ujarnya.
Salah satu pembeli, Nana Prety, wara Seyegan, Sleman mengetahui tempat kuliner sego berkat ini dari media sosial, begitu melihat tampilannya sudah sangat tradisional, topping sego berkat juga sangat meriah."Rasanya smokey banget, karena dimasak dengan kayu bakar jadi memang beda," ungkapnya. (tom/din)
Editor : Satria Pradika