Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pasang Kelambu ,Tidur Lebih Hangat, Aman dari Nyamuk

Gunawan RaJa • Minggu, 15 Oktober 2023 | 13:00 WIB
Kepala Dinas Tata Ruang (Kundha Niti Mandala Sarta Tata Sasana) Kabupaten Gunungkidul Fajar Ridwan. Dok Pribadi
Kepala Dinas Tata Ruang (Kundha Niti Mandala Sarta Tata Sasana) Kabupaten Gunungkidul Fajar Ridwan. Dok Pribadi

 

RADAR JOGJA - Anak-anak zaman sekarang 'minggir' dulu, karena generasi old ingin bernostalgia dengan kain kelambu. Kain kelambu semacam tirai pelindung, dipasang di tempat tidur agar terbebas dari kedinginan dan lemut atau nyamuk nakal.


Salah seorang pengguna kain kelambu itu adalah Kepala Dinas Tata Ruang (Kundha Niti Mandala Sarta Tata Sasana) Kabupaten Gunungkidul Fajar Ridwan. Dia terlihat antusias ketika diminta menceritakan pengalaman memakai kelambu.


"Kain kelambunya sekarang sudah hilang, dipakai untuk mencari ikan. Tapi kenangannya masih ada," kata Fajar mengawali cerita soal kelambu kepada Radar Jogja, Jumat (13/10).


Mantan  kepala Bidang Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul ini melanjutkan, kelambu miliknya berwarna putih. Dia bersama dengan saudara kandungnya menggunakan kain kelambu sekitar tahun 1980-an.
"(Masuk ke dalam kelambu) rasanya sumpek, tapi memang tidak boleh dibuka sama simbah, biar tidak dicokoti lemut (digigit nyamuk)," ujarnya.


Pernah satu ketika tidur berdua dengan kakaknya. Saat malam telah larut dan lampu remang, kain kelambunya terlihat semakin eksotis. Pandangan mata mengarah ke atas kain kelambu yang terpantau nglembreh (tidak kencang). "Nglembreh tertimpa sampah dari atap rumah yang belum diplafon," ucapnya.


Dia menduga, waktu itu bakal terjadi huru-hara kalau kelambu sampai amblas. Sampah dan debu bakal tumpah turun ke bumi dan mengotori sekujur badan. Beruntung dia tidak mengalami peristiwa yang tak mengenakkan itu. "Kalau tidak dibersihkan bagian atas kelambu, sampah sering numpuk," terangnya.
Berbeda dengan keluarga mampu, kelambu milik keluarganya bukan dari tiang penyangga yang didesain khusus nun cantik dan kokoh. Menurutnya, rangka kelambu milik keluarganya terbuat dari bambu.


"Seingat saya jarang dicuci, paling setahun sekali atau dua kali. Namanya juga anak-anak waktu itu kami tinggal pakai saja," kelakarnya.


Warga Padukuhan Grogol, Kalurahan Grogol, Kapanewon Paliyan ini menuturkan, ia menjadi pengguna kain kelambu mulai SD sampai dengan SMP. Cukup lama, sehingga memori dari balik kain kelambu bersama dengan saudara tertua masih terekam jelas.


"Setelah tamat SMP, kain kelambu sudah tidak berbekas. Sekarang sepertinya juga sudah jarang-jarang orang menggunakan," jelasnya.


Anak terakhir dari enam bersaudara itu meneruskan, kain kelambu dipakai orang zaman dulu saat tidur selain bantal dan guling. Dari bahan kain bentuk jaring-jaring kecil. Selain berfungsi untuk menghindari serangan nyamuk, ketika masuk ke dalam bisa terhindar dari kedinginan. "Masuk tinggal tidur, sudah anget," ungkapnya.


Di Hotel Berikan Kesan Etnik

Selain untuk memberikan perlindungan dan kenyamanan bagi para tamu hotel dari gigitan nyamuk, kelambu tempat tidur juga menambah kesan etnik Jogja Village Inn, Jalan Menukan, Brontokusuman, Mergangsan, Jogja. Kelambu ini memang menjadi konsep salah satu hotel tersebut sejak berdiri 1995 silam. 


Manager Operasional Jogja Village Inn Yohanes Bosco Ario Setyanto mengatakan, sejauh ini memang masih eksis menggunakan kelambu sejak hotel ini berdiri. Adanya kelambu sudah menjadi konsep awal dari bangunan hotel yaitu etnik. 
"Kelambu sejak awal kita konsepnya sudah pakai. Sejak tahun 1995 sudah ada kelambu, jadi memang konsep kami etnik," katanya Jumat (13/10). 


Bosco menjelaskan, sejak awal sasaran pasar tamunya memang lebih banyak turis asing yang mana mereka sangat menyukai tentang hal-hal etnik. Kawasan hotel ini juga bernuansa hijau nan asri alias banyak pohon atau kebun. Ini juga sekaligus memberikan kenyamanan tamu dari serangan gigitan nyamuk. 
"Di samping dari sisi artistiknya, sekaligus untuk mencegah gigitan nyamuk. Setidaknya kita protect tamu kita sendiri supaya punya rasa nyaman singgah di tempat kita," ujarnya. 


Adapun jenis atau bahan kelambu yang digunakan mengikuti tren era sekarang. Sebab bahan kelambu yang digunakan zaman dulu berbeda yakni bahan tenun. Kelambu berbahan tenun saat ini sulit dicari, sementara pihaknya harus mengikuti perkembangan sekarang namun tetap tak meninggalkan kesan jadul. 


"Untuk mencari itu susah, terus kita kombinasikan yang baru namun tetap konsep etniknya dapat. Misalnya untuk cover yang atas kita pakai blaco, itu kain-kain model dulu masih dapat," jelasnya. 


Kesan jadul yang tidak ditinggalkan ini adalah material dari tempat tidur yang masih asli, yaitu besi sejak zaman Belanda. Besi ini yang menjadikan frame tempat tidur di seluruh hotel berjumlah 24 kamar yang semuanya menggunakan kelambu. Terdiri dari 2 size tempat tidur yakni jenis dobel bed berukuran 180x200. Dan twins bed berukuran 100x200. "Kalau perawatan karena kami punya laundry sendiri nggak masalah. Secara periodik kita cuci," tambahnya. (gun/wia/laz)

Editor : Satria Pradika
#oldies #KELAMBU #dpp #Dinas Tata Ruang