RADAR JOGJA - Nama resminya Blocnoot Cap Kera. Tapi dulu begitu populer dengan sebutan "Notes Munyuk". Ya, karena bergambar kera atau munyuk dalam bahasa Jawa. Buku kecil untuk berbagai catatan itu begitu legendaris di era tahun 1980-an.
Buku saku ini terbilang praktis dan menawarkan kemudahan untuk dibawa ke mana-mana. Tulisan bisa rapi karena bergaris. Pengguna Notes Munyuk ini pun beragam, mulai siswa, ibu rumah tangga hingga orang kantoran.
Digunakannya Notes Munyuk ini juga tidak saja secara informal, tapi juga dalam pemakaian resmi. Ini karena pada masa itu sistem administrasi atau pencatatan masih manual. Belum era komputer atau HP seperti sekarang.
"Bentuknya kecil jadi praktis dibawa ke mana-mana. Ya dipakai mencatat apa saja. Kalau ibu-ibu menabung di arisan, juga pakai Notes Munyuk. Menulis resep makanan juga. Kadang untuk menulis lirik lagu-lagu yang sedang hits saat itu," ujar Yani, 54, warga Sleman.
Ia mengakui keberadaan Notes Munyuk makin tergeser seiring banyaknya blocknoot merk lain maupun era komputerisasi. Di mana seseorang praktis menuliskannya tidak di buku saku tapi disimpan di HP, laptop atau komputer.
"Penggunaannya multifungsi. Pelaku mindring juga bawa Notes Munyuk untuk menuliskan catatan utang dan pembelian barangnya. Jadi si mindring maupun yang ambil barang, sama-sama punya catatan dengan notes dobel," ungka ibu rumah tangga ini.
Pustakawan terbaik nasional peringkat 1 tahun 2018 Anang Fitrianto Sapto Nugroho menyebut, Blocknoot Kera populer di zamannya. Hampir semua kalangan memerlukan buku saku tersebut.
"Nootblok Kera emang udah lama populer banget ya. Gak cuma dari satu kalangan saja, tapi dari berbagai profesi juga pada pakai. Mulai guru, wartawan, pembisnis, sampe pedagang juga pada mencatat pake Nootblok Kera," ujar ASN Pemprov DIJ ini kepada Radar Jogja (6/10).
Anang menyakini budaya mencatat dan menulis perlu terus dilakukan. Sebab untuk pengingat kegiatan atau hal-hal yang perlu disiapkan untuk keperluan sehari-hari.
"Apalagi buat orang-orang yang sibuk banyak jadwal, kayak guru, wartawan, pembisnis, atau pedagang. Mereka tuh pasti punya banyak acara yang harus diinget. Pedagang juga butuh mencatat barang-barang yang mau dibeli dan yang udah terjual," tambahnya.
Anang juga bercerita bahwa ibunya juga termasuk orang yang suka mencatat meskipun tidak menggunakan Blocnoot Cap Kera. Misalnya saja mencatat belanjaan, pengeluaran bulanan hingga siklus menstruasinya.
"Bahkan beliau kerap menenteng buku cap Keris, buat mencatat data pasien di RS tempat beliau kerja. Dan yang masih saja menancap di pikiran, aroma kertasnya itu lho, sangat khas dan candu," ujarnya sambil tertawa.
Baca Juga: Jawa Pos - Radar Jogja edisi Jumat, 6 Oktober 2023
Seiring berjalannya waktu, kondisi zaman berubah. Teknologi berkembang dan orang mulai beralih mencatat menggunakan gadget. Aplikasi notes digital menjamur dan bahkan dilengkapi dengan alarm pengingat agenda dan bisa diberi gambar dan warna kesukaan.
"Tapi gak jarang juga masih ada yang tetep pake notes kertas dengan desain keren. Khususnya buat pejabat dan orang-orang yang punya jabatan penting. Mereka biasanya suka bawa notes dengan sampul kulit yang terlihat mewah. Kayaknya tuh pengen nunjukin kalau mereka itu punya kelas gitu," jelasnya.
Selain itu, kalau lagi ada acara-acara tertentu, juga masih banyak juga yang bagi-bagi buku notes sebagai souvenir.
Anang yang juga merupakan tim protokoler hubungan masyarakat (humas) Pemprov DIJ ini menyakini notes kertas akan terus ada. Meskipun gadget sudah canggih dan praktis. Namun tetap saja memiliki kelemahan jika tidak diisi daya dan rentan terhapus.
"Tapi notes kertas tetep terasa lebih berkelas, menurutku sih. Tulisan pake pena juga terkesan lebih keren, keliatan serius. Kalo pake HP, kadang kesannya kayak main game atau lagi asyik sosmed, tapi sebenernya lagi mencatat. Tapi penampilannya tetep beda deh," jelasnya.
Apalagi, tren menulis tangan belakangan ini kembali digencarkan oleh negara maju. Setidaknya, upaya itu sudah diberlakukan di Swedia. Sebab, menulis tangan memiliki banyak manfaat termasuk untuk stress release.
"Bagi sebagian orang, mencatat pake notes kertas itu tetep pilihan yang nggak bisa digantikan dengan teknologi modern sekalipun. Jadi, walaupun tren berubah, Nootblok Kera masih tetep jadi favorit banyak orang," ujarnya. (lan/laz)