RADAR JOGJA - Nasi yang dipadukan dengan lauk berkuah memang bikin ngiler. Apalagi jika kuahnya bersantan. Karena akan ada sensasi gurih pada masakan tersebut. Seperti mangut pincuk iwak kali. Ada beberapa ikan yang diolah menjadi mangut. Di antaranya ikan beong, wader, lele, gabus, hingga bulus.
Uniknya, mangut ini disajikan dengan alas daun pisang yang diletakkan di atas anyaman bambu. Sensasi gurih dari kuah bersantan itu menyatu dengan aroma daun pisang yang khas. Apalagi jika dihidangkan dalam keadaan masih panas. Seolah menggoyang lidah bagi para penikmatnya.
Aneka menu mangut iwak kali itu bisa didapat di warung makan Mangut Pintjoek. Tepatnya di Jalan Raya Blabak-Ketep Pass, Dusun Jetis, Pagersari, Mungkid. Pengunjung bisa menyantap sajian mangut itu sembari menikmati terpaan angin yang sejuk. Sebab, lokasinya diapit oleh hamparan sawah.
Pemilik warung makan Mangut Pintjoek Sari Wahyuningsih mengatakan, sudah membuka usahanya sejak Januari 2019. Saat itu, ia ingin menyajikan makanan khas Magelang. Akhirnya, terpikir untuk membuat mangut. Atau salah satu jenis masakan seperti gulai, tapi lebih encer dan pedas.
Mangut ini, memang sudah lazim ditemui di beberapa warung makan. Untuk itu, dia harus memutar otak agar sajiannya berbeda dengan warung makan lainnya. "Kami mencari beberapa alat. Lalu, dapat pincuk dari anyaman bambu dan dialasi daun pisang. Itulah kenapa namanya mangut pincuk," ujarnya saat ditemui Jumat (29/9).
Selain ingin membuat penyajiannya berbeda dengan lainnya, Sari ingin mengenalkan sajian tempo dulu dan lebih ramah lingkungan. Satu di antaranya menggunakan anyaman bambu. Sementara bagian atasnya dilapisi daun pisang yang dilipat dan disematkan lidi hingga membentuk sebuah cekungan atau pincuk.
Semua ikan mangut yang disajikan berasal dari sungai atau kali. Seperti ikan beong, wader, belut, sili, gabus, potes, pelus, hingga bulus. Adapun ikan tersebut, diperoleh dari Sungai Progo, Elo, Pabelan, Mangung, Keji, Blongkeng, dan sungai lainnya. Tapi, sudah ada yang memasok ikan-ikan itu ke warungnya.
Ikan-ikan itu, lanjut dia, harus melalui proses memasak yang cukup lama. Rata-rata bisa menghabiskan waktu hingga tiga jam. Agar durinya menjadi lebih lunak dan bumbunya bisa meresap sampai ke dalam ikan. Hingga membuat rasanya lebih gurih. Bumbu yang digunakan pun masih tradisional. Tidak mengandalkan bumbu instan.
Sari menyebut, mangut itu dipadukan dengan rasa manis, asin, gurih, dan pedas. Tapi, tingkat kepedasannya masih terbilang normal. Dan bisa menambah cabai jika pengunjung ingin rasa lebih pedas. Untuk santan yang digunakan, tidak terlalu kental.
Biasanya, dia menyetok satu kuintal ikan. Karena ketika memesan ikan wader, belum tentu pencari ikannya bisa mendapatkan wader. Sedangkan untuk menu ikan lainnya, seperti bulus hingga gabus, jarang disajikan. Karena merupakan ikan musiman. Tapi, ketika ada stok, banyak orang yang mengincarnya. Bahkan, ludes dalam hitungan jam. (aya/eno)
Editor : Satria Pradika