RADAR JOGJA - Bermula dari kesamaan hobi dan kecintaannya terhadap sepeda tua, sejumlah profesi berkumpul jadi satu. Mereka bersama-sama mengayuh sepeda onthel. Menyusuri tiap sudut di Magelang.
Acap kali terlihat puluhan sepeda onthel berjalan beriringan di jalan raya. Di lain waktu, sepeda-sepeda itu terlihat parkir berderet di tempat tertentu. Semuanya masuk kategori sepeda tua. Rupanya, deretan sepeda tua itu milik anggota Komunitas Sepeda Tua Indonesia (Kosti) Magelang Raya.
Kosti Magelang Raya dibentuk pada 30 Maret 2014. Sebetulnya, sejumlah daerah di Indonesia sudah memiliki komunitas itu. Mereka pun aktif menggelar berbagai kegiatan. Entah dari internal Kosti maupun kegiatan sosial dan kesenian. Begitu pula dengan Kosti Magelang Raya.
Tim Kreatif Kosti Magelang Raya Pieu Kamprettu menjelaskan, Kosti merupakan induk dari semua klub atau komunitas sepeda yang ada di Magelang Raya. "Meski memang ada beberapa klub yang tidak bergabung dalam satu payung, yakni Kosti," ujarnya kepada Radar Jogja beberapa waktu lalu.
Dia menuturkan, selama terbentuk hingga sekarang, komunitasnya memiliki berbagai kegiatan. Mulai dari diskusi, bakti sosial, hingga berkesenian. Mereka juga memiliki agenda rutin yang dilakukan saban Minggu Legi. Semua klub atau embiro yang tergabung pada Kosti Magelang Raya, berkumpul di Pendopo Lapangan drh Soepardi, Mungkid.
Mereka tidak hanya sekadar bertemu dan bertegur sapa. Para anggota Kosti juga mengobrol dan saling berbagi informasi. Anggota Kosti juga bertemu saat perayaan hari-hari besar nasional.
Untuk sepeda yang digunakan para anggota, tentu memiliki nilai historis tersendiri. Entah peninggalan orang tua maupun pernah digunakan untuk bepergian.
Hingga kini, ada 200 anggota Kosti Magelang Raya yang aktif. Mereka berasal dari berbagai latar belakang. Tapi, 80 persen merupakan wiraswasta dan dari berbagai kalangan.
Pieu menyebut, beberapa kali pernah melakukan display koleksi sepeda tua terbaik dari anggota Kosti dan dipamerkan kepada masyarakat umum. Kebanyakan buatan Eropa, Belanda, Jerman, Inggris, Prancis, hingga Jepang.
Baca Juga: Dilengkapi Gudang, Arto Mart Adikarto Siap Suplai Alat Pertanian Petani Magelang
Tidak hanya sekadar display, tapi juga memberi pengetahuan kepada masyarakat secara umum terkait dengan karakter, tipe, nomor seri, nomor rangka, hingga sejarah sepeda tersebut. Dengan begitu, mereka akan tertarik untuk bergabung pada Kosti. Termasuk mengajak mereka untuk berkeliling kota dan mengunjungi beberapa wisata heritage.
Dia menyebut, untuk bergabung pada Kosti, memang benar-benar karena senang dan hobi. Tidak ada paksaan. "Orang yang senang terhadap seni, pasti lebih mengetahui soal sejarah sepeda onthel. Tapi, tidak semua orang bisa senang dengan seni itu," sambungnya.
Seiring dengan bertambahnya jalur sepeda di Kota Magelang, kata dia, sangat berpengaruh terhadap para pesepeda. Mereka lebih terfasilotasi. Selain dari sisi keamanan lebih terjamin, pesepeda juga lebih enjoy menikmati perjalanan. (aya/eno)
Editor : Satria Pradika