RADAR JOGJA - Pasar Lawas Mataram resmi dibuka di halaman Masjid Gedhe Mataram. Tepatnya di Padukuhan Sayangan, Kalurahan Jagalan, Banguntapan, Bantul, Jumat (15/9). Kegiatan bertema “Nggugah Sepi Sarana Ngupadi Rejeki” ini akan berlangsung hingga hari ini, 17 September.
Pada hari pertama, suasana pasar lawas sudah ramai dipenuhi pengunjung. Para pengunjung menikmati berbagai jenis kuliner khas yang disajikan di Pasar Lawas Mataram. Jajanan ini pada zaman dahulu banyak dijual di sekitar Jagalan, Kotagede. Namun saat ini sudah sulit ditemukan.
Salah satu pengunjung, Yusuf Bakry mengatakan, ia membeli beberapa jajanan. Salah satunya tiwul jangan ndeso. Jajanan ini ia beli dengan harga yang cukup terjangkau, yakni Rp 10 ribu per porsi. Menurutnya, makanan tersebut unik dan bisa menjadi pengganti dari nasi. "Jarang ditemukan di tempat asal saya. Ingin bernostalgia saja dengan makanan dan jajanan tempo dulu," katanya.
Beberapa jajanan lain yang ramai diserbu pembeli seperti es limun, jenang gempol, sate klathak, jenang suran, wedang ronde, mie kopyok, clorot, kicak, sate kere, setup jambu dan lainnya. Sementara pengunjung yang membawa anak-anak banyak mengerumuni tenant mainan tradisional.
Salah satu pedagang di pasar lawas, Jarni mengatakan, dirinya baru kali ini membuka lapak di pasar lawas. Sebelumnya ia sendiri melihat antusiasme yang besar di gelaran edisi sebelumnya. Maka dari itu, ia pun mendaftarkan diri untuk menjadi salah satu pedagang di pasar lawas tahun ini. "Dagangannya harus beda satu sama lain. Saya akhirnya milih jualan tiwul," ujarnya.
Jarni berharap, agenda seperti ini bisa terus rutin digelar tiap tahunnya. Sebab selain bisa menarik pengunjung, juga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Kalurahan Jagalan. "Bisa untuk menyambung kehidupan juga daripada di rumah nganggur. Biasanya saya jualan perhiasan manten dari pasar ke pasar," ungkapnya.
Ketua Panitia Pasar Lawas Mataram Sulthon Abdul Aziz mengatakan, festival ini tidak hanya menjadi wahana berjualan bagi para pedagang. Tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan masyarakat setempat untuk menghidupkan kembali warisan budaya kuliner. Dibandingkan dengan penyelenggaraan sebelumnya, gelaran tahun ini serasa lebih lengkap.
Dia berharap, kegiatan ini membuka kesadaran masyarakat di Jagalan untuk melestarikan potensi terkhusus makanan tradisional yang ada di Jagalan. Juga untuk mengingatkan pengunjung yang hadir akan memori masa kecil dengan menyajikan kuliner yang dulu pernah ada. “Beberapa menu yang dihadirkan” jelas Sulthon.
Salah satu perintis Pasar Lawas Mataram Sabar Riyadi menjelaskan, Pasar Lawas Mataram lebih spesifik ketimbang kuliner lawas khas Kotagede. Kuliner-kuliner yang disajikan pernah menemani warga Kotagede ketika produksi perak sedang dalam masa kejayaannya. Sekitar tahun 1970-an hingga 1980-an.”Pada waktu itu banyak pedagang keliling menjual dagangannya pada para perajin,” ujarnya.
Selain itu, filosofi di balik ajang tahunan ini adalah merujuk pada sejarah halaman masjid sebagai tempat pasar bagi masyarakat setempat. Yakni memanfaatkan cagar budaya tersebut sebagai sumber daya ekonomi. (tyo/eno)
Editor : Satria Pradika