Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Masih Ada, tapi Kini Bergeser Makna

Wulan Yanuarwati • Minggu, 10 September 2023 | 17:30 WIB
Reny Yuniasanti (Dekan Fakultas Psikologi UMBY).Dok Pribadi
Reny Yuniasanti (Dekan Fakultas Psikologi UMBY).Dok Pribadi

RADAR JOGJA - Tempat makan Rantang masuk ke Indonesia sekitar tahun 1950-an. Dipopulerkan oleh orang India pada saat itu.


Sebelumnya, sejarah kotak makan digunakan pada abad ke-19 oleh pekerja pabrik di Amerika. Berbahan kotak kayu mewah atau kaleng biskuit daur ulang.
Seiring berjalannya waktu, kotak makan dibuat menggunakan bahan logam. Dan saat ini berkembang menjadi bahan plastik.


Tren menggunakan rantang atau wadah makan kembali dilakukan masyarakat. Apalagi dalam rangka mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Agar menekan produksi sampah yang kian masif.


Dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) Reny Yuniasanti mengatakan, istilah tren seringkali didefinisikan dengan fenomena populer yang terjadi pada rentang waktu tertentu. Fenemona itu meliputi berbagai macam hal, mulai dari benda hingga perilaku manusia.


"Manusia merupakan makhluk pembelajar yang juga melakukan perilaku berdasarkan mengingat atau mencontoh dari proses-proses atau pengalaman sebelumnya," ujarnya kepada Radar Jogja Jumat (8/9).
Reny menyebut, salah satu tren yang seringkali diulang adalah tren baju. Model baju tahun 80-an yang oversized bomber saat ini banyak dicari dan disukai anak muda. Hal lain adalah penggunaan tempat makan rantang yang masih digunakan hingga saat ini.


"Tradisi rantangan tidak bisa menjadi tren kembali dan disisihkan dengan tuperware (istilah populer untuk menyebut kotak makan plastik), tidak sepenuhnya tepat. Masih ada beberapa wilayah terutama di Jawa yang masih mengantarkan makanan menggunakan rantang berbahan stainless steell," jelasnya.


Kotak makan plastik memang sebagai salah satu alternatif yang banyak digunakan. Hal ini dikarenakan bahan yang lebih ringan karena dari plastik. Selain itu juga kuat dan memiliki beragam warnak menarik. Apalagi memiliki garansi yang panjang.


"Istilah rantangan seringkali masih juga digunakan, walaupun menggunakan tuperware yang berbentuk seperti rantang. Mengantarkan makanan dengan rantang atau disebut rantangan ini di beberapa wilayah masih dilakukan," jelasnya.


Karena kembali lagi makna dari memberikan makanan lewat rantang, lanjut Reny, adalah untuk bersilaturahmi dan menghormati orang tua pada acara-acara perayaaan adat istiadat ataupun agama. "Yang berganti adalah makna dari rantangan itu sendiri. Makna rantangan sekarang lebih membentuk perilaku imbal balik atau resiprokal dalam istilah psikologis," katanya.


Artinya, kata Reny, memberikan makanan lewat rantang dengan harapan orang yang diberi akan memberikan dan berperilaku sama dengan yang kita lakukan. "Rantangan masih ada, hanya dalam bentuk rantang tuperware yang makna dan tujuannya agak berbeda dan bergeser dari zaman dahulu," tambahnya. (lan/laz)

Editor : Satria Pradika
#UMBY