RADAR JOGJA - Warga Desa Krincing, Secang memanfaatkan pompa energi surya atau pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) untuk menyedot air sungai. Apalagi musim kemarau ini mengakibatkan lahan pertanian kekeringan dan kekurangan air.
Kepala Desa Krincing Heri Purwanto menjelaskan, pembuatan PLTS ini berawal dari para petani yang kesulitan mendapat air di musim kemarau pada 2019 lalu. Selain itu, saluran irigasi yang berada di perbatasan Kabupaten Magelang dan Temanggung kerap tidak berfungsi. Hal itu membuat lahan pertanian tidak produktif, bahkan terancam gagal panen.
Dia menyebut, Pemerintah Desa (Pemdes) Krincing akhirnya menggelontorkan dana desa sebesar Rp 300 juta untuk membuat PLTS. "Setiap tahunnya, saat musim kemarau, panel surya itu hidup. Sebaliknya, ketika hujan akan mati karena memanfaatkan sinar matahari," bebernya, Minggu (27/8).
Selama ini, PLTS tersebut dirawat oleh petani dan kelompok perikanan. Semula, PLTS itu mampu mengairi hingga 10 hektare lahan pertanian. Namun, lantaran sering terjadi hujan dan membuat pipa tersumbat lumpur, sekarang hanya mampu mengairi 2-5 hektare sawah. Tergantung kondisi sawah tersebut.
Adapun PLTS itu memiliki daya listrik sebesar 6.000 watt. Dia menuturkan, jarak sumber air ke area pertanian warga sekitar 450 meter dengan ketinggian tegak lurus sekitar 50 meter. Pompa ini bekerja 24 jam nonstop dengan mengambil tenaga listrik dari panel-panel surya yang berada di tengah sawah.
Heri menambahkan, selama ini, tidak ada kendala yang berarti dengan sistem tersebut. Hanya saja memang harus sering memeriksa pipa yang ada di bawah. Karena tampungan air kerap kemasukan lumpur dan bahkan tersumbat sampah.
Seorang teknisi PLTS Solihin menyebut, ada 64 buah panel surya. Setiap panel mampu menghasilkan 6,20 ampere atau 21,60 volt. Sedangkan total pengeluarannya mencapai 440 volt dengan mengambil air dari Sungai Elo. Kemudian, dialirkan menuju lahan pertanian dan kolam perikanan.
Untuk perawatannya, kata dia, dilakukan setiap satu bulan sekali dengan membersihkan pompa di bawah. Karena ada saringan di dalam mesin. Namun, kata dia, ketika sering hujan dan air menjadi keruh, pembersihan pompa bisa dilakukan dua kali dalam satu bulan. Selain itu, juga dilakukan pembersihan di bagian atas panel.
Saat musim hujan, lanjut dia, panel surya rentan terhadap petir. Meski dilengkapi dengan penahan petir, tapi tidak menutup kemungkinan petir dapat sewaktu-waktu menyambar. "Pernah kena petir (panel surya). Yang rusak itu penahan petirnya terus dilakukan penggantian sekitar Rp 1,5 juta," sebut Solihin. (aya/pra)