RADAR JOGJA - Sebanyak 85 tenant UMKM dan juga Koperasi usaha mengikuti agenda reaktivasi Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) dan Gerakan Nasional Bangga Berwisata di Indonesia (Gernas BBWI) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Agenda ini secara konsep untuk menaikkan mutu dan kualitas para pelaku usaha di Jogjakarta, serta relevansinya dengan moda penjualan dengan sistem digital yang diselenggarakan di JEC pada 22 dan 23 Juni.
"Agenda ini akan dilakukan di 3 kota dengan potensi market dan pelaku usaha yang juga besar," ujar Direktur Kelembagaan Dan Sumber Daya Konstruksi PUPR Nicodemus Daud.
Adapun kota kedua setelah Jogjakarta yakni Kendari dan selanjutnya adalah Medan yang rencananya akan dilaksanakan pada Agustus dan November mendatang.
Nicodemus menyebut, bahwa secara sumber daya manusia dan kualitas produk yang dihasilkan pelaku usaha di Jogjakarta harusnya sudah bisa bersaing di pasar global, dari pelatihan yang sebelumnya juga telah dilakukan PUPR kendala yang umum terjadi adalah soal pendistribusian produk dan digitalisasi transaksi. "Soal digitalisasi itu memang harus terus ditingkatkan, karena SDM dan produknya sudah bagus," ujarnya.
Gelaran yang dilakukan di JEC ini memiliki target pengunjung mencapai 1.000, diakui Nicodemus jumlah tersebut telah tercapai pada hari pertama pelaksanaan, sementara terkait target transaksi pihaknya menyebut tidak memiliki patokan spesifik. "Target transaksi tidak ada, tapi saya lihat animo dan growth-nya cukup bagus selama dua hari ini," paparnya.
Sinta Lestari, salah seorang pelaku UMKM yang menjual produk-produk batik mengaku terbantu dengan adanya program Gernas dari PUPR ini, dirinya mengakui ada perluasan market dan juga potensi kolaborasi yang terjalin. "Ini acaranya kan dari pusat, jadi yang datang juga banyak orang berkepentingan, penjualan dan pemasaran juga naik cukup baik," tandasnya.
Sinta mengakui bahwa dirinya juga terus memaksimalkan potensi usaha yang dimilikinya dalam aspek promosi dan penjualan dengan sistem digitalisasi. Hal tersebut diakuinya masih menjadi PR karena terbatasnya pemahaman yang dimiliki akan sistem online dan digital. "Soal digital itu saya belajar terus, fokusnya sekarang ke sana, karena soal legalitas semuanya saya sudah aman," tutup Sinta (cr1/bah).