Seperti dikisahkan warga Kapanewon Wonosari Sujarwo. Menurutnya, masalah besar pertama seorang laki-laki adalah disunat. Baru muncul isu, belum mengetahui hari, tanggal dan tahun sudah ketakutan. “Zaman dulu sunatan pakai bambu dan pisau cukur,” kata Sujarwo saat dihubungi Radar Jogja Jumat (8/7).
Bagaimana tidak cemas, rasa waswas itu terus menghantui sampai hari H. Belum lagi cerita kawan-kawan yang lebih dulu disunat. Mereka menyampaikan pesan horor betapa mengerikannya potong kulup. “Jadi, ketika bapak-simbok (ayah dan ibu) mulai bicara tentang sunat, saya langsung lari,” ujarnya.
Biasanya lari ke tempat simbah. Bukannya tambah tenang, kabar sunatan itu ternyata juga sampai ke mbah kakung juga. Terang saja, sepanjang malam tidur tak nyenyak. “Kalau simbah dulu sunatan pakai bambu. Beda dengan kamu sekarang, cukup dengan pisau,” ujarnya sambil mengenang kata-kata simbah.
Walau sama-sama ekstrem, kadar ketakutanya kala itu berangsur melandai. Memantapkan hati dan pikiran lalu pamit pulang dan dengan gagah berani menyatakan siap disunat. Hal itu disambut hangat bapak ibu. “Kalau mau disunat saya dijadikan baju, sarung, peci, sandal baru. Makanan enak apa saja akan disediakan,” terangnya.
Seketika mental Jarwo kecil naik 100 derajat. Wejangan dari orang tua tentang manfaat sunat semakin menguatkan hati. Tapi namanya juga anak-anak, mendekati hari yang telah ditentukan tetap saja takut. “Rasane mung koyo dicokot semut (rasa khitan seperti digigit semut, Red),” kata simbok kala itu.
Hari paling pertama paling menakutkan akhirnya telah tiba. Bong supit mengenakan peci hitam datang ke rumah. Bapak paruh baya berkumis nampak membawa koper, entah apa saja isinya, Jarwo hanya pasrah. “Wedi to le (takut ya, Red),” kata Jarwo menirukan suara bong supit.
Di tengah obrolan itu, rupanya tangan gesit bong supit sedang bekerja.
Meski terus mengajak bicara, konsentrasi tidak terganggu. Bahkan Jarwo ingat betul saat ditanya umur berapa, sekolah kelas berapa dan seterusnya. “Tiba-tiba saya disuruh berdiri. Saya langsung merinding karena mengira sunatan baru dimulai,” bebernya.
Namun dugaan itu keliru. Bong supit justru terlihat mengemasi peralatan. Menjauh darinya dan duduk ke kursi. Bapak ibu datang lantas mengucapkan selamat. Jarwo mengaku bingung ternyata sunatan sudah selesai. “Rasanya anyep (dingin, Red), dan saya mulai turun dari tempat tidur,” ujarnya sambil tersenyum. (gun/laz) Editor : Editor Content