Pengamat budaya Ananta Hari Noorsasetya menuturkan, teklek punya sejarah panjang. Mulai dari sandal masyarakat kalangan bawah sampai permainan tradisional untuk keluarga istana.
Ananta mengungkapkan, dari berbagai penelitian sandal teklek masuk ke Indonesia pada masa penjajahan Jepang sekitar tahun 1942. Hal ini ini dibuktikan dengan adanya geta atau sandal kayu buatan rakyat Jepang yang sudah dahulu ada sebelum teklek hadir di Nusantara.
Mengingat Indonesia merupakan negara dengan sumber daya kayu cukup besar, teklek kemudian menyebar sangat pesat di berbagai pulau. Mulai dari di sebagian Jawa yang dikenal dengan nama bakiak atau teklek, kemudian di Sumatera dengan nama galuak, serta nama bangkiak yang lebih akrab oleh masyarakat Jawa Timur.
Merunut sejarahnya, Ananta menyatakan teklek dulunya merupakan salah satu benda yang banyak dipakai oleh masyarakat kalangan bawah. Hal ini tidak terlepas dari bahan baku teklek sendiri yang gampang didapatkan dan bisa dibuat sendiri oleh masyarakat. Karena hanya bermodal kayu dan karet atau akar sebagai pengikat kaki.
“Sebagaimana diketahui, Indonesia produksi kayunya sangat melimpah, sehingga teklek kemudian dapat dijangkau oleh semua lapisan masyarakat. Mulai dari kelas atas, menengah sampai bawah,” ujar sarjana seni ini saat dihubungi Radar Jogja Jumat (8/4).
Namun seiring berkembangnya zaman, fungsi teklek kemudian perlahan mulai berubah, terlebih ketika banyak muncul bahan baku lain untuk sandal. Kehadiran teklek pun bergeser menjadi permainan tradisional.
Ketika sandal kayu mulai jarang digunakan, teklek kemudian berkembang menjadi permainan tradisional yang lazim disebut bakiak. Yakni sebuah permainan anak-anak yang terbuat dari kayu panjang serta karet sebagai penahan kaki. Biasanya dimainkan dua sampai tiga orang dalam satu pasang papan kayu.
Pengamat permainan tradisional ini juga mengungkapkan, nasib permainan bakiak pun hampir sama dengan teklek itu sendiri. Bakiak hampir dimainkan oleh anak-anak dari berbagai kalangan. Mulai dari anak kampung sampai anak-anak yang tinggal di dalam istana.
Manfaat dari bakiak pun juga sangat baik bagi anak-anak karena melatih koordinasi tim serta fisik anak. “Permainan bakiak juga memiliki filosofi kepemimpinan. Anak yang paling depan adalah penentu kemenangan dan keselarasan rekan satu timnya dalam menjalankan sandal bakiak,” terang Ananta. (inu/laz) Editor : Editor Content