Bagi anak-anak generasi 90-an, tentu sudah tak asing lagi dengan kudapan satu ini. Leker sebenarnya merupakan camilan sederhana, bahan dan pembuatannya pun mudah. Hanya butuh tepung beras, tepung terigu, maizena, gula, telur, vanila, soda kue, susu kental manis, dan topping sesuai selera seperti meses, pisang, cokelat, susu kental manis, dan lain-lain.
Adonan leker dituang ke dalam wajan mini berbentuk lingkaran, kemudian ditaburi topping sesuai selera, dan dimasak sampai teksturnya renyah. Setelah matang, penjual leker biasanya melipat kue jadi setengah lingkaran dan siap disantap. Penampilan leker kurang lebih serupa martabak, tetapi lebih tipis dan garing.
Kini, camilan ini masih banyak pelestari yang menjualnya. “Ya, pengen cari rezeki dan ingin mengenang masa lalu juga, melestarikan makanan jadul,” ungkap Harjono, penjual kue leker di depan Pasar Kotagede, Jogja, kepada Radar Jogja.
Pak Yono, sapaan akrabnya, ini sempat vakum lama tidak menjual kue leker. Awal berjualan tahun 1995 silam, belajar dari saudaranya yang juga menjual camilan ini. Ia hanya bertahan tidak lebih dari lima tahun berjualan kue leker. Kemudian baru memulai usaha leker lagi satu tahun kebelakang.
Dulu pembelinya kalangan anak-anak SD dan SMP. Kini konsumennya mulai bergeser ke masyarakat umum. Pun ternyata leker sekarang masih banyak dicari pembeli. “Dulu kalangan anak-anak, sekarang dewasa yang kangen dengan kue leker,” jelasnya yang menyebut peminat dari anak-anak juga masih ditemui meski tak banyak.
Bapak tiga anak ini dulu berjualan dari sekolah ke sekolah yang berbeda di kawasan Gedongkuning. Sesuai jadwalnya, yaitu mulai sebelum masuk sekolah, saat jam istirahat pertama, jam istirahat kedua, hingga menjelang siswa akan pulang sekolah.
Justru saat ini laki-laki 46 tahun itu jarang berjualan menyasar ke sekolah-sekolah. Sebab, pergeseran pembeli mayoritas kalangan dewasa yang ingin bernostalgia dengan kue jadul itu. “Mereka ingin mengenang makanan masa lalu waktu sekolah SD dulu. Sekarang malah nggak di sekolahan lagi, karena zamann dan peminatnya udah beda. Tempatnya di mana saja, saya selalu dicari,” terang warga Banguntapan, Bantul, ini.
Menurutnya, adonan hingga cetakan untuk membuat leker tak pernah berubah. Dan masih identik dengan pisang, meses, dan gula. Seiring berkembangnya waktu, variasi rasa leker mulai ditambah yaitu rasa keju. Ini seiring permintaan pelanggannya yang terkadang tidak pernah suka dengan toping-toping yang seperti biasanya.
“Kalau dulu pembeli nggak pernah milih-milih. Mereka beli beli aja karena ya kalangan anak-anak. Sekarang banyak yang request toping, dan saya variasi tambahan rasa keju,” tambahnya.
Dalam sehari, Pak Yono biasa menghabiskan tiga kilogram adonan. Ia tidak menjual leker dengan harga per biji. Melainkan per 8 biji Rp 5 ribu, ini disesuaikan dengan sekali ia masak. “Saya jual bijian susah hitungannya sekarang. Saya mematok sekali masak cetakan 8 biji seharga Rp 5 ribu. Jalau dulu jual Rp 100 per biji,” tandasnya.
Depan Pasar Kotagede adalah lokasi yang disasar saat ini untuk menjajakkan leker, antara pukul 15.00-21.00. Sementara ia berjualan menetap menyesuaikan dengan situasi pasar saat-saat ramai. “Karena di depan pasar ramainya sore, maka saya jual sore ke malam. Tapi rencana juga mau jual pagi, masih nyari tempat,” tambahnya. (wia/laz) Editor : Editor Content