Generasi 1960-an hingga 1990-an, pasti akrab dengan berbagai permainan tradisional yang kerap dimainkan bersama. Satu diantaranya adalah permainan boi-boinan atau lempar kereweng.
Menurut pengamat permainan tradisional Ananta Hari Noorsasetya, kereweng berarti pecahan tanah liat seperti genting. Permainan tersebut sebetulnya bercerita tentang suasana kehidupan di pedesaan. Yang atap rumahnya banyak menggunakan genting.
Ananta menyebutkan, saat itu, genting banyak diproduksi sekitar tahun 1960-an. Seperti di Purworejo dan Jatiwangi. Saat memproduksi, gentingnya ada yang pecah. Selain itu, bekas pemasangan genting banyak yang tidak terpakai. Sehingga pecahan tersebut terbengkalai. Jadi, oleh anak-anak dimanfaatkan untuk bermain.
“Pada dasarnya, pembuatan genting dilakukan secara bersama-sama atau rewang. Jadi, ada kaitannya antara rewang dengan genting,” jelas Ananta saat dihubungi Radar Jogja, Kamis (13/1).
Ananta menjelaskan, permainan kereweng dimainkan oleh dua tim. Rata-rata permainan ini dimainkan dua orang atau lebih. Caranya dengan menyusun pecahan genting sampai tinggi. Mirip seperti menara. Kemudian, tim lawan akan melemparinya dengan kereweng atau bola kasti. Semakin tinggi susunannya, akan semakin seru.
Tak hanya melempar kereweng, tapi juga merewang. Pasalnya, dalam satu tim, harus bersatu padu untuk mengalahkan lawan. Membantu satu sama lain. Jadi, permainan kereweng tidak hanya sebatas pecahan genting yang disusun, melainkan punya makna yang mendalam.
Menurut Ananta, dari segi edukasi, permainan ini mengajarkan untuk berani jujur dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan. Pun soal kehidupan yang harus saling bersosialisasi antar sesama. Bisa dikatakan, permainan kereweng menciptakan simbiosis mutualisme.
Di kota besar, orang-orang Betawi menyebutnya dengan istilah ditakol. Lambat laun permainan boi-boinan makin hilang karena hadirnya permainan modern. Seperti gembot, packman, pun dengan komputer yang pertama kali datang ke Indonesia. Anak-anak cendurung enggan untuk bermain dalam bentuk fisik. Padahal, bermain kereweng dapat menyehatkan badan.
Sekarang, permainan itu hanya bisa dikenang. Memiliki memori sendiri dalam benak tiap orang. Terutama yang pernah bermain permainan kereweng. “Lahan untuk bermain kereweng masih ada, tapi kemungkinan sudah tidak diminati. Kalah dengan permainan sekarang,” kata pria kelahiran 9 Januari 1974 ini.
Pertumbuhan penduduk di perkotaan juga memengaruhi. Sehingga tidak hanya permainan kereweng saja yang hilang, melainkan permainan tradisional lainnya. Tingkat kesenjangan sosial pun makin tinggi.
Ananta berharap, hadirnya pemerintah daerah dapat ikut mempertahankan permainan tradisional dan jika perlu harus dilestarikan. Pasalnya, permainan ini merupakan hasil dari kebudayaan masyarakat yang cukup penting di Indonesia. Bahkan, menjadi warisan lokal genius.
Pemerintah daerah harus kembali menghidupkan wacana permainan kereweng. Edukasi juga diperlukan. Karena lunturnya permainan kereweng maupun lainnya diakibatkan adanya akulturasi budaya yang tak terbatas. Seperti media sosial Facebook, YouTube, Instagram, dan lain-lain. “Pemerintah daerah harus bisa menjembatani terkait edukasi permainan tradisional,” tandasnya.
Acapkali masyarakat tidak begitu tahu mengenai permainan tradisional zaman dahulu. Justru dari permainan tersebutlah secara tidak langsung menciptakan permainan zaman sekarang. Jika pemerintah daerah dapat melestarikannya, akan menambah nilai di bidang pariwisata.
Caranya, jika ada wisatawan, baik lokal maupun manca negara, permainan kereweng dapat ditampilkan. Secara verbal maupun non-verbal sehingga dapat menjadi edukasi pariwisata yang baik.
Orang tua zaman sekarang pun tidak lagi diajarkan permainan tradisional oleh pendahulunya. Pada akhirnya, tidak bisa menghadirkan permainan tradisional pada anak cucu. Inilah yang menjadi dosa adat pada orang tua. Yang secara tidak langsung, tidak bisa mengenalkan permainan tradisional. “Mungkin mereka berpikir, untuk apa mengenalkan. Sekarang zamannya serba digital,” ucapnya. (cr1/laz) Editor : Editor Content