“Jadi, ceritanya pada jam sekolah kami main boi-boian. Awalnya seru dan tidak ada masalah,” kata Sulistyo, mantan pemain boi-boian warga Kalurahan Putat, Kapanewon Patuk, Gunungkidul.
Pada jam istrahat, ditandai dengan munculnya bunyi 'dung-dung-dung', berasal dari salah satu perangkat alat musik gamelan yang dipukul seorang guru. Anak-anak, termasuk dirinya berhamburan keluar kelas. “Sasarannya jajan dulu, baru bermain,” ujarnya.
Hasil pertemuan singkat dengan teman-teman di warung samping sekolah, sepakat bermain boi-boian. Merupakan salah satu permainan yang digemari anak-anak zaman dulu (jadul). “Kami menggunakan bola kasti yang dikuliti dan tinggal warna merah pekat,” ucapnya kepada Radar Jogja.
Bola bulat ini memiliki peran vital dalam permainan boi-boian. Fungsinya untuk dilempar ke sasaran. Cara mainnya, bola dilempar pada tumpukan pecahan genting atau batu yang pipih dengan jarak tertentu.
“Setelah roboh, penjaga harus mengambil bola dan melemparkannya ke anggota lain. Kalau terkena lemparan bola bergantian menjadi penjaga lempengan. Begitu seterusnya,” ungkapnya.
Tiba waktunya berbagi tim. Total ada 10 anak ikut dalam permainan. Agar adil, dimulai dengan hompimpa alaium gambreng. Singkat cerita terbagilah puluhan anak tadi dalam dua tim kecil. Kelompok satu bertugas merobohkan susunan pecahan genting atau kereweng yang telah disusun ke atas menggunakan bola.
“Kemudian kelompok yang berjaga harus menyusunnya kembali. Harus hati-hati, karena tim lain akan berusaha menggagalkannya dengan melempar bola,” ujarnya.
Peraturan dalam membawa bola di mana kelompok yang jaga berusaha melempar bola untuk mengenai kelompok bermain. Apabila berhasil menyusun pecahan genting, berteriak 'boi-boi' yang artinya mereka memenangkan permainan. Tapi kalau salah satu anggota kelompok terkena bola yang dilempar oleh kelompok lawan, maka mereka akan menjadi kelompok jaga. “Lucunya, ada insiden salah sasaran terkena lemparan bola,” ucapnya.
Ketika itu, ada salah satu temannya tidak ikut main. Kawan berpostur tubuh gendut berjalan santai sambil makan. Secara mengejutkan dikagetkan dengan datangnya 'peluru' nyasar. Bola boi-boian mendarat tepat ke bagian perut.
“Nangis dan mengeluh sesak tidak bisa napas. Sambil tertawa kami mengurut perutnya. Untung tidak apa-apa,” kata Sulistyo tapi lupa dengan nama temannya yang sempat jadi korban salah sasaran itu karena beda kelas. (gun/laz) Editor : Editor Content