Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Fenomena Menabung, Hanya Perubahan Cara Pandang

Editor Content • Minggu, 2 Januari 2022 | 18:16 WIB
Pengamat Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Ahmad Ma
Pengamat Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Ahmad Ma
RADAR JOGJA - Menabung merupakan cara mencadangkan uang untuk dapat digunakan kembali kemanfaatanya sewaktu-waktu. Tetapi seiring perkembangan zaman, perilaku manusia bermetamorfosis. Sebelum adanya celengan, orang zaman dulu terbiasa menyimpan uang di bawah bantal, kasur, di bambu, bahkan di dalam tiang rumah yang terbuat dari bambu. Kecenderungan uang yang ditabung dalam bentuk koin.

Seiring kebijakan perbankan, masyarakat didorong menabung di lembaga keuangan dengan ditandai adanya gerakan menabung (gemar menabung) pada era 1980-1990. Lambat laun kesadaran perkembangan literasi keuangan semakin maju. Aspek yang dikedepankan dalam managemen keuangan yaitu keamanan dan kemanfaatan uang.

“Bila uang hanya ditaruh di bawah bantal atau celengan gerabah, berapa pun nilai tambahnya tidak ada. Sementara bila di simpan di bank, nilai tambahnya tinggi untuk pembiayaan kredit produktif,” ujar pengamat ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Ahmad Ma'ruf saat dihubungi Radar Jogja, Jumat malam (31/12).

Diceritakan, dulu menabung di bank masih dalam bentuk tulisan manual di buku. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini metamorfosis cenderung beralih ke digital. Seperti e-money, I-banking, maupun uang digital yang dikelola fintech. Dan hanya menyisakan sedikit uang cash on hand-nya.

“Fenomena celengan ini sebenarnya hanya perubahan cara pandang. Dulu orang nabung menyisihkan uang pada akhirnya digunakan untuk kenaikan kelas, beli sepatu, sepeda atau keperluan lainnya,” ujar Ahmad. Kalau sekarang tinggal ditaruh di bank sudah ada perputaran dan terdapat kemanfatan dari segi sosial ekonomi. Memberikan nilai tambah dalam wujud jasa maupun bunga.

Lepas dari itu, perilaku masyarakat di dalam menggunakan uang selalu kembali ke teori klasik, digunakan untuk transaksi. Kendati begitu saat ini transaksi masif dalam bentuk digital. Tetapi bukan berarti pencadangan uang secara manual ditinggalkan. Hanya saja nilainya kecil untuk hal-hal yang sifatnya darurat (di simpan dompet, Red). Menabung di bank, tambahnya, juga dapat berinvestasi secara virtu.

“Yang terpenting dari nostalgia ini, membangun kesadaran dan perilaku bahwa masyarakat tetap harus selalu mencadangkan keuangannya,” katanya.
Tetapi perlu diedukasi jika terlalu banyak mencadangkan dalam bentuk tabungan celengan, justru dapat berisiko uang tidak memiliki nilai ekonomi. Karena tidak bisa diputar atau dipinjamkan kepada orang lain, baik secara kelompok ataupun individu. Baik skala besar ataupun kecil, manfaat ekonomi sosial.

Contohnya digunakan untuk usaha mikro kecil maupun kredit untuk menggerakkan ekonomi. “Kalau saya lihat tren menabung koin saat ini lebih pada transaksi sensasi. Misalnya menabung koin untuk beli mobil dan sebagainya,” tandas Ahmad. (mel/laz) Editor : Editor Content
#celengan #Fenomena Menabung