Meski masih ada yang memanfaatkan celengan di era modern ini, bentuk celengan telah berubah. Media alternatif penyimpanan uang itu kini dominan berbahan dasar plastik, kayu, aluminium, maupun keramik.
Khoiriyasih, salah seorang generasi 90-an yang pernah menggunakan celengan dari gerabah bercerita, sewaktu duduk di bangku SD hingga SMP punya tiga buah celengan berbentuk kendil. “Sewaktu SD, aku punya dua celengan, sedangkan saat SMP aku punya satu,” katanya kepada Radar Jogja, Jumat (31/12).
Khoir, sapaan akrabnya, mengaku senang lantaran punya celengan yang bisa dikatakan legendaris pada masanya. Menurutnya, punya celengan gerabah merupakan sesuatu yang 'wah' dan sisa uang selepas sekolah bisa ditabung.
Dulu ia kerap memasukkan sisa uang saku sekolah. Recehan mulai dari Rp 200, Rp 500, hingga Rp 1.000. Ia menyebut, paling banyak seribu. Karena uang sakunya hanya Rp 2 ribu.
“Jadi paling banyak seribu. Seratus rupiah juga aku masukin, tapi kebanyakan lima ratus,” kenang perempuan kelahiran 16 November 1998 ini.
Hingga pada akhirnya, celengan itu harus ia relakan untuk dipecah. Untuk membeli tas. Baginya, ada sebuah kebanggaan tersendiri ketika uang yang ia kumpulkan selama itu bisa ditukar jadi tas. Bahkan, ia menuturkan, tasnya awet setelah digunakan selama lima tahun.
Sayangnya, semakin maju perkembangan zaman, celengan gerabah semakin terdegradasi. “Sekarang kalah sama celengan yang berkaleng atau berbentuk lebih bagus dari bahan plastik seperti itu,” tuturnya.
Ia pun sudah jarang menjumpai gerai ataupun perajin gerabah yang membuat celengan tersebut. Jikalau ada, kebanyakan langsung dari perajinnya atau pasar tradisional.
Menurutnya, celengan gerabah merupakan karya masyarakat dan menambah pemasukan sehari-hari. Terutama untuk mengembangkan sumber daya manusia yang ada.
Gerabah menjadi salah satu unsur yang menjadikan Indonesia kaya. Jadi, celengan yang terbuat dari gerabah juga perlu dilestarikan. Agar kearifan lokal Indonesia tidak semakin pudar. “Celengan gerabah jadi sesuatu yang unik dan perlu dilestarikan,” tandasnya.
Khoir berharap, pemerintah dapat terus melestarikan celengan gerabah. Menurutnya, celengan ini termasuk warisan yang diberikan masyarakat Indonesia. Terlebih jika ada inovasi baru, yang mungkin sekarang sudah ada, dengan memberikan sentuhan berupa lukisan di tiap sisi celengan.
“Juga ada dukungan dari Kementerian Perekonomian dan Ekonomi Kreatif, bagaimana celengan bisa terangkat lagi dan bisa menjadi produk lokal yang diminati pasar,” tandasnya. (cr1/laz) Editor : Editor Content