Nah, salah satu praktisi ‘pesugihan’ ini adalah Muhammad Fikri Muas. Pria yang akrab disapa Ipik ini merupakan pegiat kompetisi desain logo.
Sebenarnya, fenomena ini mulai marak sekitar tahun 2009-2010. Namun Ipik baru ikut terjun tahun 2011. “Waktu itu pelakunya sedikit dan memang interest ke dunia desain,” ungkapnya saat memulai sesi wawancara saat ditemui di Perpustakaan Desa Wukirsari, Imogiri, Bantul (3/12).
Seiring waktu, rumor mulai bermunculan. Fikri dan sejumlah temannya mendapat penghasilan melimpah bermodal duduk depan komputer. “Ada rumor, enak banget nggolek duit sak mono, ngene-ngene (enak sekali mendapat uang dengan gampang). Semacam pesugihan,” cetus Ipik, kemudian tertawa.
Beberapa orang yang menengok aktivitas Ipik kemudian tahu. Pria yang aktif di dunia seni rupa ini kerap mengikuti kompetisi desain logo. Sebagian besar beranggapan aktivitas ini mudah dengan penghasilan melimpah. Kemudian bayaklah orang tertarik untuk mencoba peruntungan.
Namun berjalannya waktu, mereka yang menggampangkan kompetisi desain justru berguguran. Tak kuat dengan menumbalkan waktu dan pikiran yang harus disuguhkan sebelum membuahkan ide. “Ini seperti freelance, tapi justru lebih menguras. Mulai mencari ide dan fokus membuat desain. Belum lagi ada feedback konsumen yang berkali-kali komentar,” bebernya.
Bergugurannya peminat, juga tidak terlepas dari kebijakan platform kompetisi desain logo. Di mana platform itu mulai melakukan penjaringan. Akun yang kedapatan melakukan copy paste langsung ditendang. “Yang pakai akun ganda terus ketahuan, juga kena report,” paparnya.
Bergugurannya akun di platform kompetisi, berdampak pada sengitnya persaingan. Kompetisi kini beranjak serius. “Awalnya asal-asalan, rontok. Sekarang tinggal sedikit, tapi kualitasnya ngeri-ngeri,” keluh Ipik.
Pria 37 tahun ini bahkan mengaku tak berani bersaing dengan kompetitor di platform lokal. Untuk itu, pria yang juga mengampu Perpustakaan Desa Wukirsari itu lebih memilih bersaing di platform internasional. “Platform lokal, malah kualitasnya bagus-bagus. Malah sengit. Baru liat saja sudah malas. Mending yang luar saja,” ujarnya.
Selain itu, platform internasional memberi imbalan yang sedikit lebih tinggi. Rata-rata kompetisi di platform internasional memberi imbalan sekitar USD 190. Bila dirupiahkan nilainya sekitar Rp 2,6 juta. “Budget kontes lokal itu sekitar Rp 2 juta sampai Rp 2,5 juta. Agak lebih tinggi di luar dan saingannya juga lebih mudah,” sebutnya.
Platform internasional juga menyuguhkan ratusan kontes tiap hari. Sehingga, peminat kontes dapat memilih kompetisi yang sekiranya cocok dan peluang kemenangannya tinggi. “Setiap hari ada kontes, ratusan. Makanya sampai ada yang menjadikan kontes ini sebagai penghasilan utama,” tandas Ipik. (fat/laz) Editor : Editor Content