Mitos Gunung Merapi: Pasar Bubrah, Tanah Lapang yang Berubah Jadi Pasar Gaib Saat Malam

Azri Ghaida Nur Ilya Nahdi • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 18:30 WIB
Ilustrasi Pasar Bubrah di Gunung Merapi. (AI Generated)
Ilustrasi Pasar Bubrah di Gunung Merapi. (AI Generated)

 


RADAR JOGJA - Di ketinggian sekitar 2.600 meter di lereng Gunung Merapi, ada satu tempat yang bagi warga sekitar tidak pernah dianggap tanah lapang biasa.

Namanya Pasar Bubrah. 

Secara harfiah, "bubrah" dalam bahasa Jawa berarti berserakan atau rusak. 

Sesuai kondisi lahannya yang memang dipenuhi bebatuan vulkanik sisa letusan-letusan Merapi dari masa ke masa.

Siang hari, tempat ini terlihat biasa saja.

Kontur tanahnya yang datar bahkan jadi lokasi favorit para pendaki untuk beristirahat dan mendirikan tenda sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak.

Baca Juga: Pasien Jantung Tak Perlu ke Luar Purworejo, Dilayani dengan Cathlab di RSUD dr Tjitrowardojo


Tapi begitu malam tiba, cerita yang diwariskan turun-temurun di kalangan pendaki dan warga lereng Merapi berubah sepenuhnya.


Pasar Bubrah dipercaya menjelma jadi pusat transaksi jual-beli para makhluk gaib.

Seperti pasar sungguhan milik manusia, lengkap dengan ramai-ramainya penjual dan pembeli.

Tak sedikit pendaki mengaku pernah mendengar suara riuh dari kejauhan, obrolan tawar-menawar, bahkan alunan gamelan mengalun di tengah kesunyian.

Baca Juga: Aktivitas Merapi Masih Tinggi, BPPTKG Catat Ratusan Gempa Vulkanik, Suplai Magma Terus Berlangsung

Padahal secara kasat mata, tempat itu benar-benar kosong.

Konon, para pedagang di pasar gaib ini berasal dari bangsa jin dan makhluk penghuni asli Gunung Merapi.

Dipercaya sebagai bagian dari kerajaan gaib yang bersemayam di gunung ini.


Selama transaksi hanya berlangsung antarsesama makhluk gaib tidak akan ada masalah bagi manusia yang kebetulan lewat.


Tapi mitos ini punya satu peringatan yang sering diceritakan turun-temurun.

Yaitu kadang ada juga pendaki yang tanpa sadar diajak "bertransaksi" oleh salah satu pedagang yang tak kasat mata itu.

Baca Juga: Pangkas Waktu Hingga Setengah Jam, Jembatan Sesek Temben Hadir Kembali Dengan Panjang 160 Meter


Kalau seseorang mendengar suara semacam penawaran barang di tengah Pasar Bubrah, ia dipercaya wajib melemparkan sesuatu yang berharga miliknya sebagai bentuk pembayaran simbolis.


Bisa uang atau benda apa pun yang dianggap sepadan dengan nilai transaksi tersebut.

Konon, siapa pun yang menolak merespons atau justru menganggapnya lelucon, berisiko "diculik" ke alam gaib.

Karena dianggap telah menyerahkan ruhnya sebagai bagian dari transaksi yang tak pernah ia setujui secara sadar.

Dari sini pula banyak kisah pendaki yang tersesat atau bahkan hilang di kawasan Merapi kerap dikaitkan warga dengan mitos Pasar Bubrah ini.

Entah kebetulan atau tidak, ceritanya terus hidup dan diceritakan ulang setiap generasi pendaki baru yang singgah di titik yang sama.

Editor : Meitika Candra Lantiva
Mitos Gunung Merapi Tanah Lapang Pasar Gaib misteri pasar bubrah