SLEMAN – Di balik hijaunya lereng Gunung Merapi, tersimpan sebuah kampung yang seolah membeku dalam waktu. Bangunan-bangunan yang terkubur material vulkanik, jalan yang berakhir di reruntuhan, hingga keheningan yang menyelimuti kawasan itu membuat Dusun Bakalan, Kalurahan Argomulyo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, kerap dijuluki sebagai "kampung mati".
Julukan tersebut bukan tanpa alasan. Sejak diterjang awan panas dan aliran piroklastik saat erupsi besar Gunung Merapi pada 5 November 2010, dusun yang dahulu dihuni puluhan keluarga itu tak pernah lagi ditempati. Kini, sisa-sisa perkampungan berubah menjadi museum terbuka yang menyimpan jejak salah satu bencana paling dahsyat dalam sejarah Yogyakarta.
Malam Saat Merapi Mengubah Segalanya
Malam 5 November 2010 menjadi momen yang tak terlupakan bagi warga Dusun Bakalan. Lokasinya yang berada kurang dari 50 meter dari aliran Kali Gendol membuat kampung ini berada tepat di jalur terjangan awan panas Merapi.
Baca Juga: Biaya Perantara Sebesar Rp 47 M Lampaui Harga Tanah, Ahli Sebut Ada Indikasi Fraud
Material vulkanik bersuhu tinggi meluncur dengan kecepatan tinggi, menghancurkan rumah-rumah dan menimbun permukiman hingga puluhan meter.
Dalam tragedi itu, tiga warga dilaporkan meninggal dunia setelah kembali ke rumah untuk mengamankan barang-barang mereka. Mereka diduga terjebak ketika awan panas menyapu kawasan tersebut.
Pascaerupsi, seluruh 88 kepala keluarga direlokasi ke Hunian Tetap (Huntap) Kuwang yang berjarak sekitar 4,5 kilometer dari kampung asal. Sejak saat itu, Dusun Bakalan masuk dalam kawasan rawan bencana dan tidak lagi diizinkan menjadi permukiman.
Rumah yang Membeku dalam Waktu
Memasuki kawasan Dusun Bakalan, suasana sunyi langsung terasa. Di beberapa titik masih tampak rumah yang sebagian besar tubuh bangunannya tertimbun material erupsi.
Ada rumah yang hanya menyisakan bagian atap, ada pula pintu yang masih berdiri meski seluruh bangunan telah terkubur.
Di antara puing-puing tersebut, berdiri sebuah rumah joglo yang nyaris utuh. Tiang-tiang kayunya masih terlihat menghitam akibat panas erupsi, sementara lantainya masih menyimpan abu vulkanik yang sengaja dibiarkan sebagai pengingat dahsyatnya bencana.
Kawasan ini kini dikenal sebagai Museum Terbuka Bakalan, tempat berbagai peninggalan erupsi dipertahankan sebagai sarana edukasi kebencanaan sekaligus pengingat akan kekuatan alam.
Di Balik Keheningan, Tersimpan Cerita yang Sulit Dilupakan
Bagi sebagian pengunjung, Dusun Bakalan bukan hanya menyimpan sejarah, tetapi juga menghadirkan suasana yang sulit dijelaskan.
Baca Juga: Jawa Tengah–Fujian Perkuat Aliansi Ekonomi, Investasi hingga Pertukaran Pemuda Jadi Fokus Baru
Saat senja mulai turun, jalanan yang sepi, rumah-rumah kosong, dan pepohonan yang mengelilingi bekas permukiman menciptakan atmosfer yang membuat bulu kuduk meremang.
Warga setempat pun masih menyimpan banyak kisah mengenai malam ketika Merapi memuntahkan awan panas. Cerita-cerita itu terus hidup sebagai bagian dari memori kolektif masyarakat, meski tidak dapat dipastikan kebenarannya.
Pengelola kawasan mengingatkan bahwa berbagai cerita yang berkembang merupakan bagian dari pengalaman dan penuturan masyarakat, bukan sesuatu yang dapat dibuktikan secara ilmiah.
Uji Nyali Lewat "Jurit Malam"
Suasana sunyi Dusun Bakalan kini dimanfaatkan sebagai bagian dari wisata minat khusus.
Melalui program "Trip Horor Kampung Mati Sleman – Jurit Malam", peserta diajak menyusuri kawasan bekas permukiman ketika malam tiba.
Kegiatan tersebut bukan sekadar berburu sensasi, melainkan menggabungkan wisata sejarah, edukasi kebencanaan, dan petualangan.
Peserta akan diajak mengenal kondisi Dusun Bakalan sebelum erupsi, mengamati artefak yang masih tersisa, hingga berjalan kaki menyusuri lorong-lorong bekas kampung bersama pemandu lokal yang menceritakan kisah nyata di balik tragedi Merapi.
Misi-misi sederhana juga disiapkan untuk menambah pengalaman eksplorasi di tengah gelapnya kawasan yang telah lama ditinggalkan.
Warisan Bencana yang Kini Menjadi Eduwisata
Selain dikenal karena atmosfernya yang mencekam, kawasan Bakalan juga memiliki nilai ilmiah yang tinggi.
Material erupsi Merapi 2010 yang masih tersimpan di lokasi ini tengah diusulkan menjadi situs warisan geologi (geosite) oleh Pemerintah Kabupaten Sleman.
Tak heran jika kawasan tersebut rutin dikunjungi peneliti, mahasiswa, hingga wisatawan mancanegara yang ingin mempelajari karakter erupsi Gunung Merapi secara langsung.
Di balik kesan angker yang melekat, Dusun Bakalan sejatinya menjadi pengingat bahwa alam memiliki kekuatan luar biasa yang harus dihormati. Keheningan kampung yang kini kosong bukan sekadar menghadirkan rasa penasaran, tetapi juga menjadi saksi bisu tragedi yang mengubah kehidupan puluhan keluarga dalam satu malam.
Editor : Bahana.