Bantul selalu menyimpan cerita yang tidak pernah habis dikupas. Salah satu kisah yang paling memikat berasal dari Jatikluwih, sebuah dusun atau desa yang terletak di wilayah Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Nama Jatikluwih bukanlah sekadar identitas geografis tanpa makna, melainkan sebuah prasasti hidup yang lahir dari sebuah fenomena alam luar biasa sekaligus jejak dakwah spiritual para Wali Songo di tanah Jawa. Desa Jatikluwih berakar pada keberadaan sebuah pohon unik nan ajaib yang tidak dapat ditemukan di belahan bumi mana pun.
Secara fisik, pohon tersebut adalah pohon jati namun memiliki daun jati yang lebar, kaku, dan cenderung berbentuk bulat lonjong seperti yang biasa kita lihat, pohon di desa ini justru menampilkan anomali yang mencengangkan. Daun-daunnya tumbuh menjari, sangat mirip dengan bentuk daun pohon kluwih—tanaman sejenis sukun yang buahnya kerap dijadikan bahan campuran sayur lodeh oleh masyarakat Jawa.
Keanehan ini sempat memicu perdebatan panjang di kalangan masyarakat zaman dahulu. Mereka kerap berselisih paham untuk menentukan apakah tumbuhan tersebut sebenarnya termasuk spesies pohon jati atau pohon kluwih.
Misteri ini kian menebal ketika masyarakat memperhatikan fenomena alam di sekitarnya. Setiap kali ada bibit baru atau anakan pohon yang tumbuh dari biji pohon ajaib tersebut, tumbuhan baru itu justru tumbuh menjadi pohon jati yang normal tanpa cacat, lengkap dengan daun bulat lonjongnya.
Karena keunikan biologis yang mustahil dinalar ini, masyarakat meyakini bahwa pohon Jatikluwih bukanlah tumbuhan sembarangan. Pohon ini dianggap memiliki keistimewaan spiritual yang tinggi, dikeramatkan, dan diyakini memiliki kekuatan sakti. Keberadaannya pun menyebar luas hingga ke luar wilayah Bantul, menjadikannya magnet bagi para pencari ketenangan spiritual yang datang jauh-jauh dari luar daerah untuk melakukan ritual bertapa atau lelaku di bawah rindangnya.
Jika ditarik garis sejarahnya, keberadaan pohon yang penuh misteri ini ternyata berkaitan erat dengan karomah serta warisan spiritual dari dua tokoh penyebar agama Islam di Jawa, yaitu Sunan Kalijaga dan murid setianya, Ki Cokrojoyo (yang kelak dikenal sebagai Sunan Geseng).
Kisah ini bermula pada suatu masa silam yang tidak tercatat pasti dalam angka tahun. Kala itu, Sunan Kalijaga ingin menguji tingkat keimanan, ketaatan, serta keteguhan ilmu dari muridnya, Ki Cokrojoyo.
Sebagai bentuk ujian, Sunan Kalijaga memerintahkan sang murid untuk bertapa di kawasan Jatikluwih. Ki Cokrojoyo diminta untuk tidak bergeser sedikit pun dari tempat duduknya dan ditinggalkan seorang diri, sementara Sunan Kalijaga melanjutkan perjalanan panjangnya untuk berdakwah menyebarkan syiar Islam ke berbagai pelosok daerah.
Tahun-tahun berlalu, dan tugas dakwah Sunan Kalijaga akhirnya selesai. Sang guru pun berniat kembali ke Jatikluwih untuk menjemput muridnya. Namun, alam telah berubah. Wilayah Jatikluwih saat itu telah berubah menjadi hutan yang sangat lebat (rungkut), dipenuhi oleh semak belukar yang berduri, serta ditumbuhi pepohonan raksasa yang saling bertumpuk. Kondisi geografis yang ekstrem ini membuat Sunan Kalijaga kehilangan arah dan kebingungan mencari jalan masuk menuju titik tempat muridnya bertapa.
Demi membuka akses jalan dan menemukan sang murid, Sunan Kalijaga akhirnya mengambil keputusan besar untuk membakar semak belukar yang merintangi jalannya. Sayangnya, takdir berkata lain. Kobaran api yang dinyalakan melesat dengan sangat cepat, melahap seluruh hutan dengan ganasnya. Tanpa diduga, area tempat Ki Cokrojoyo sedang tenggelam dalam tapa bratasnya ikut terlalap oleh jago merah.
Api berkobar begitu dahsyat, menjulang tinggi ke angkasa, dan bergulung-gulung dengan hebatnya. Dalam istilah bahasa Jawa, pemandangan api yang berkobar-kobar besar ini disebut dengan istilah mulat-mulat. Saking masifnya kebakaran tersebut, hawa panas dan sisa kobaran api merembet hingga ke pemukiman di seberangnya. Untuk mengenang peristiwa kebakaran hebat tersebut, wilayah desa di seberang Jatikluwih yang terkena dampak jilatan api itu kemudian dinamakan Desa Muladan.
Baca Juga: Piala Presiden 2026 Resmi Bergulir 25 Juli, Persib di Grup A, Persija di Grup B
Melihat api yang membakar habis seluruh kawasan, kekhawatiran tentu sempat hinggap. Namun, sebuah keajaiban atau karomah wali terjadi. Ketika api mulai padam dan menyisakan abu, Sunan Kalijaga menemukan bahwa Ki Cokrojoyo ternyata tidak wafat. Berkat keteguhan hatinya dalam menjalankan perintah guru dan kedalaman ilmunya, ia selamat dari maut. Meski demikian, api yang berkobar dahsyat telah meninggalkan jejak fisik yang permanen: seluruh tubuh Ki Cokrojoyo berubah menjadi hitam legam akibat hangus terbakar.
Melihat kondisi muridnya yang dipenuhi luka bakar dan gosong, Sunan Kalijaga segera membawanya pergi menuju sebuah tempat pemandian suci (padusan) berupa sendang (mata air alami) bernama Sendang Banyuurip, yang terletak di dekat aliran Kali Oya. Di sendang inilah Ki Cokrojoyo dibersihkan dan dirawat hingga akhirnya sembuh total tanpa kehilangan nyawanya.
Peristiwa dramatis inilah yang menjadi garis sejarah berubahnya nama Ki Cokrojoyo. Sejak tubuhnya hangus terbakar namun selamat, ia dianugerahi gelar Sunan Geseng. Kata "Geseng" sendiri diambil dari bahasa Jawa yang berarti gosong atau hangus akibat terpapar panas api.
Hingga hari ini, romansa sejarah antara Sunan Kalijaga dan Sunan Geseng, serta keunikan fisik Pohon Jatikluwih, tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Jatimulyo, Dlingo. Tempat ini menjadi pengingat abadi tentang arti sebuah kesetiaan seorang murid, keteguhan dalam beribadah, dan bagaimana sebuah mukjizat mampu mengubah lanskap alam serta sejarah sebuah peradaban di Yogyakarta.
Editor : Bahana.