RADAR JOGJA - Indonesia kaya dengan cerita hantu-hantu nusantara yang selalu berkembang di masyarakat.
Salah satunya, Jelangkung yang disertai nyanyiannya yang khas dan turun temurun.
Nyanyian tersebut sebagai berikut.
“Jelangkung, jelangkung, di sini ada pesta, datang tak dijemput, pulang tak diantar, jelangkung sudah datang?”
Baca Juga: Program Bedah Rumah di Papua Perkuat Kualitas Hunian dan Dorong Pemerataan Pembangunan
Bagi generasi yang tumbuh pada era 1990-an hingga awal 2000-an, kalimat tersebut mungkin terdengar sangat familiar.
Mantra itu sering diucapkan sebagai bagian dari permainan horor yang konon mampu mengundang arwah untuk datang dan berkomunikasi dengan manusia.
Meski zaman terus berubah dan perkembangan ilmu pengetahuan semakin pesat, kisah tentang jelangkung rupanya belum benar-benar hilang dari ingatan masyarakat.
Permainan yang identik dengan suasana mencekam itu masih kerap menjadi bahan perbincangan, terutama ketika membahas mitos, cerita mistis, atau pengalaman yang sulit dijelaskan secara logika.
Baca Juga: Kebumen Masuk Daerah Paling Melek Literasi se Jawa Tengah, Warga Usul Perpusda Buka sampai Malam
Jelangkung sendiri telah lama dikenal sebagai bagian dari folklor atau cerita rakyat di Indonesia.
Permainan ini dipercaya sebagai media untuk memanggil roh dengan menggunakan boneka sederhana yang terbuat dari batok kelapa atau gayung yang dipasang pada batang bambu.
Boneka tersebut kemudian dipakaikan pakaian layaknya manusia dan diselipkan sebuah pensil yang dipercaya dapat digunakan oleh arwah untuk menuliskan jawaban atas pertanyaan para pemain.
Permainan biasanya dilakukan secara berkelompok di tempat yang sepi, terutama pada malam hari.
Para peserta duduk mengelilingi boneka sambil mengucapkan mantra yang sudah dikenal luas.
Setelah itu, mereka mulai mengajukan berbagai pertanyaan.
Ketika boneka bergerak atau pensil tampak menulis sendiri, banyak orang menganggapnya sebagai tanda bahwa roh yang dipanggil telah hadir.
Kepercayaan mengenai kemampuan jelangkung memanggil makhluk gaib terus bertahan karena banyaknya cerita yang beredar dari mulut ke mulut.
Tidak sedikit orang yang mengaku mengalami pengalaman menyeramkan setelah memainkan permainan tersebut, mulai dari mendengar suara aneh, melihat penampakan, hingga merasa mendapat gangguan selama beberapa hari setelah ritual selesai.
Meski demikian, kisah-kisah tersebut umumnya bersifat pengalaman pribadi sehingga sulit dibuktikan kebenarannya secara ilmiah.
Baca Juga: JAWA POS - RADAR JOGJA, EDISI SELASA, 30 JUNI 2026
Di sisi lain, psikologi memiliki penjelasan berbeda mengenai fenomena tersebut.
Dokter asal Inggris William Benjamin Carpenter memperkenalkan konsep efek ideomotor pada 1852 untuk menjelaskan bagaimana sugesti atau harapan dapat memicu gerakan otot yang sangat kecil tanpa disadari seseorang.
Gerakan-gerakan halus itu kemudian dapat membuat suatu benda tampak bergerak sendiri, padahal sebenarnya dipengaruhi oleh orang yang menyentuhnya.
Fenomena serupa juga digunakan untuk menjelaskan cara kerja papan Ouija yang populer di berbagai negara.
Ketika beberapa orang memegang satu benda secara bersamaan, setiap orang biasanya merasa bukan dirinya yang menggerakkan benda tersebut.
Padahal, akumulasi gerakan kecil dari seluruh peserta dapat menghasilkan pergerakan yang terlihat seolah berasal dari kekuatan di luar kendali manusia.
Baca Juga: Hardjuno: Lima Peserta SPPI Meninggal, Negara Harus Bentuk Investigasi Independen
Selain sugesti, suasana permainan juga memiliki pengaruh besar terhadap pengalaman yang dirasakan pemain.
Jelangkung hampir selalu dimainkan di tempat yang sunyi dengan pencahayaan minim, bahkan sering kali dilakukan pada tengah malam.
Dalam kondisi seperti itu, seseorang cenderung lebih mudah merasa tegang dan waspada sehingga suara angin, bayangan, atau bunyi-bunyian biasa dapat ditafsirkan sebagai sesuatu yang menyeramkan.
Meski belum pernah dibuktikan secara ilmiah, kepercayaan terhadap jelangkung tetap bertahan hingga sekarang.
Mitos tersebut terus hidup melalui cerita masyarakat, film horor, novel, hingga berbagai konten di media sosial.
Baca Juga: Jogja dan Solo Sudah Melarang, Kini Enam Bajaj Online Mulai Beroperasi di Magelang
Tidak sedikit pula orang yang memilih untuk tidak mencoba permainan tersebut karena merasa khawatir akan konsekuensi yang mungkin terjadi, terlepas dari benar atau tidaknya cerita yang berkembang.
Terlepas dari benar atau tidaknya cerita yang beredar, jelangkung telah menjadi bagian dari budaya populer Indonesia yang sulit dipisahkan dari kisah-kisah horor.
Bagi sebagian orang, permainan ini hanyalah hiburan yang dibalut sugesti.
Namun bagi yang lain, jelangkung tetap diyakini sebagai sesuatu yang sebaiknya tidak dicoba.
Perbedaan pandangan itulah yang membuat misterinya terus hidup hingga sekarang.
Editor : Meitika Candra Lantiva