Bangunan sederhana berdinding bata itu berdiri di tengah jalan, tampak kontras di antara rumah-rumah tua di sekitarnya.
Di balik temboknya yang kusam, tersimpan sebuah batu hitam berbentuk persegi yang dipercaya menyimpan kisah panjang sejak masa Kerajaan Mataram Islam.
Menurut cerita masyarakat, batu itu bukan batu biasa.
Banyak yang meyakini batu hitam tersebut adalah singgasana Panembahan Senopati, raja pertama Mataram Islam.
Batu ini disebut berasal dari hutan Lipuro wilayah yang kini dikenal sebagai Kecamatan Bambanglipuro di Bantul yang dibawa ke Kotagede sebagai simbol kekuasaan sekaligus kekuatan spiritual sang raja.
Namun, ada pula versi lain. Sejumlah warga percaya batu itu telah berada di tempatnya sejak lama, bahkan sebelum berdirinya Mataram Islam.
Mereka beranggapan bahwa batu tersebut merupakan peninggalan masa pra-Islam dan sudah digunakan untuk ritual leluhur setempat.
Karena itulah, bangunan yang menaunginya tidak pernah dipindahkan meski jalan di sekitarnya terus berubah.
Dari sisi ilmiah, batu tersebut diketahui merupakan batu andesit, jenis batu keras yang banyak digunakan untuk bangunan dan arca masa klasik.
Kini, bangunan mungil di tengah jalan itu menjadi saksi bisu perjalanan panjang Kotagede dari pusat kerajaan hingga menjadi kawasan cagar budaya.
Batu hitam itu tetap berdiri kokoh, menjaga kisah masa lalu yang belum sepenuhnya tersingkap.
Penulis : Arsy Apriliany Munawaroh