Dalam kacamata ilmiah, fenomena Supermoon merupakan momen ketika fase purnama terjadi bersamaan dengan posisi Bulan berada di perigee, jarak paling dekatnya dengan Bumi dalam orbit elips yang ditempuhnya.
Akibatnya, Bulan tampak lebih besar dan lebih terang hingga sekitar 30 persen dibandingkan purnama biasa.
Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fase purnama penuh terjadi pada 7 Oktober 2025 pukul 10.47 WIB dengan jarak sekitar 361.458 ribu kilometer dari Bumi.
Beberapa jam selanjutnya, Bulan kian mendekat hingga mencapai perigee sejauh 359 ribu kilometer pada 8 Oktober malam nanti.
Bulan purnama kali ini juga dikenal dengan sebutan Hunter’s Moon, istilah yang dipakai masyarakat di belahan bumi utara untuk menyebut purnama setelah musim panen, yang memberi cahaya malam bagi para pemburu.
Hunter's Moon muncul setelah Harvest Moon, di mana hewan-hewan akan keluar untuk berburu sisa tumbuhan sehingga memudahkan para pemburu untuk menemukan binatang buruan.
Fenomena supermoon ini tak hanya menarik dari kacamata astronomisnya, tetapi juga mengingatkan pada beragam mitos Nusantara tentang bulan purnama yang dianggap memiliki daya magis.
Dalam budaya Jawa, bulan purnama selalu dikaitkan dengan kekuatan alam, keseimbangan batin, hingga pertanda baik maupun buruk dalam kehidupan manusia.
Mitos Bulan Purnama dalam Budaya Jawa
Sejak zaman dulu, bulan purnama sering dianggap membawa energi spiritual yang kuat, dan berbagai mitos tumbuh di sekitarnya.
Salah satu mitos yang populer adalah bahwa cahaya bulan purnama mampu menyembuhkan penyakit.
Masyarakat Jawa kuno percaya bahwa berjemur di bawah sinar bulan purnama dapat membersihkan jiwa dan raga dari hal-hal negatif.
Beberapa tradisi juga mengaitkan bulan purnama dengan ritual penyucian dan tolak bala.
Dalam sejumlah daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, masyarakat melakukan kegiatan spiritual seperti berdoa bersama atau mandi malam dengan air yang dibiarkan di bawah sinar bulan, yang dipercaya dapat mendatangkan keberkahan.
Ada pula kepercayaan bahwa saat malam purnama, makhluk halus lebih aktif, sehingga manusia rentan terhadap gangguan mistis.
Waktu-waktu tertentu seperti tengah malam saat bulan tepat di atas kepala atau dalam istilah Jawa disebut “candra tumumpang aksa” dianggap rawan.
Dalam beragam tradisi Jawa, ada pula pamali yang berkaitan dengan bulan purnama, misalnya pantangan menebang pohon atau menanam tanaman pada malam purnama karena diyakini dapat mengganggu keseimbangan alam.
Mitos lainnya menyebutkan bahwa anak kecil akan sulit tidur saat purnama karena “daya bulan” membuat mereka lebih aktif dan gelisah.
Bulan purnama merupakan fenomena tata surya yang dapat dijelaskan secara fisika dan astronomi.
Tetapi bagi sebagian kebudayaan seperti, Jawa, purnama merupakan simbol harmoni antara manusia, alam, dan kekuatan tak kasat mata.
Fenomena seperti supermoon dapat menjadi jembatan antara sains dan budaya. Sains menjelaskan bagaimana dan mengapa hal itu bisa terjadi, sementara budaya menafsirkan makna di balik keindahan langit malam.
Penulis: Ayu Andayani Saputri
Editor : Bahana.