Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mitos Main Beras Bikin Tangan Kiting, Ada Penjelasan Ilmiahnya?

Bahana. • Selasa, 7 Oktober 2025 | 23:01 WIB
ilustrasi AI
ilustrasi AI

RADAR JOGJA - Di banyak daerah Indonesia, seperti di Jawa dan Bali ada wewaler atau larangan unik yang sering diucapkan orang tua ke anak-anak, “Jangan main beras, nanti tanganmu kiting atau keriting!”

Larangan ini sudah diwariskan turun-temurun dan sering dianggap sebagai nasihat untuk menjaga anak agar tidak bermain-main dengan makanan.

Namun, benarkah bermain beras bisa membuat tangan keriting atau kaku? Begini, penjelasan ilmiahnya.

Mitos Larangan Bermain Beras

Beras dalam budaya dipandang sebagai simbol rezeki dan kesucian. Karena itu, masyarakat zaman dulu menganggap bermain beras sebagai perbuatan yang tidak sopan atau “tidak etis”

Anak-anak yang memiliki rasa ingin tahu tinggi sering kali tertarik memainkan benda-benda di sekitarnya, termasuk beras yang dianggap menarik karena bentuknya kecil dan banyak.

Selain alasan etika, larangan bermain beras juga dinilai sebagai peringatan agar anak-anak tidak melakukan tindakan berbahaya, misalnya memasukkan beras mentah ke mulut yang bisa berisiko tersedak, melukai gigi, atau menyebabkan gangguan pencernaan jika sampai tertelan.

Untuk membuat anak-anak jera, muncul mitos wewaler atau larangan bermain beras karena bisa menyebabkan tangan keriting atau dalam bahasa Jawa disebut ‘kiting’ Istilah tangan kiting itu merujuk pada kondisi tangan kaku, pegal, atau jari menekuk tidak bisa diluruskan.

Mitos ini kemudian terus dipercaya dan diwariskan tanpa dasar ilmiah yang jelas.

Penjelasan Ilmiah Bermain Beras Bikin Tangan Kiting

Walaupun mitos ini sudah berangsur dari generasi ke generasi, namun secara ilmiah tidak ada bukti medis atau penelitian yang menyatakan bahwa beras bisa membuat tangan kiting atau keriting.

Butiran beras tidak memiliki zat kimia yang dapat mempengaruhi otot atau sendi manusia. Kontak kulit dengan beras juga tidak menyebabkan kontraksi otot.

Jika ada orang yang merasa tangannya sedikit kaku atau pegal setelah memegang atau menggenggam beras, penjelasan logisnya lebih kepada faktor kelelahan otot.

Aktivitas berulang seperti menggenggam, mencubit, atau menekan butiran kecil dapat menyebabkan otot tangan bekerja terus-menerus. Akibatnya, otot bisa mengalami kontraksi ringan atau kram sesaat.

Melansir dari Medical News Today, kram tangan biasanya disebabkan oleh kelelahan otot, dehidrasi, atau ketidakseimbangan elektrolit, bukan karena benda yang disentuh.

Jadi, rasa ‘kiting’ atau kaku tidak bisa diluruskan setelah main beras kemungkinan besar disebabkan oleh penggunaan otot jari yang berlebihan atau kurangnya peregangan, bukan disebabkan beras itu sendiri.

Pada dasarnya, mitos larangan bermain beras lahir dari nilai budaya yang ingin menanamkan rasa hormat terhadap makanan.

Meskipun secara ilmiah tidak didukung, kita tetap bisa menghormati mitos sebagai bagian dari kearifan lokal, sekaligus memahami fakta ilmiah agar tidak terjebak pada kepercayaan yang keliru.

Penulis: Ayu Andayani Saputri

Editor : Bahana.
#mitos #urban legend