Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Ritual ‘Tebu Manten’ yang dalam Film Pabrik Gula, Antara Tumbal dan Budaya

Meitika Candra Lantiva • Minggu, 11 Mei 2025 | 21:53 WIB
Poster film ‘Pabrik Gula’ 2025.
Poster film ‘Pabrik Gula’ 2025.


RADAR JOGJA - Film horor Pabrik Gula karya Awi Suryadi yang dirilis pada April 2025 berhasil menarik perhatian penonton dengan mengangkat tradisi Jawa kuno, yaitu ritual Tebu Manten, sebagai elemen sentral dalam ceritanya.

Namun, film ini memberikan interpretasi yang berbeda dari makna asli ritual tersebut.

Tebu Manten: Tradisi Asli

Dalam budaya Jawa, Tebu Manten adalah ritual yang dilakukan menjelang musim giling tebu di pabrik-pabrik gula.

Dua batang tebu terbaik dipilih dan diperlakukan layaknya pengantin, lengkap dengan riasan dan pakaian adat.

Prosesi ini melibatkan arak-arakan, pertunjukan seni tradisional seperti gamelan dan wayang, serta doa-doa yang dipimpin oleh tokoh adat atau dukun.

Tujuannya adalah sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas hasil panen dan harapan agar proses penggilingan berjalan lancar.


Interpretasi dalam Film Pabrik Gula

Dalam film, ritual Tebu Manten digambarkan dengan nuansa mistis dan menyeramkan.

Cerita berpusat pada sekelompok pekerja musiman di sebuah pabrik gula tua yang mengalami kejadian supranatural setelah melanggar aturan adat.

Salah satu tokoh, Naning, mencuri perhiasan gaib milik roh penjaga pabrik, Maharatu, yang menyebabkan kemarahan dan teror.


Untuk meredakan amarah Maharatu, dilakukan ritual Tebu Manten yang mengharuskan pengorbanan sepasang manusia sebagai tumbal.

Meskipun upaya untuk menggantikan mereka dengan boneka dilakukan, roh tersebut tetap menuntut korban asli, yang akhirnya dikubur hidup-hidup di ladang tebu.


Perbedaan Makna

Perlu dicatat bahwa dalam kenyataannya, ritual Tebu Manten tidak berkaitan dengan praktik tumbal atau pengorbanan manusia.

Tradisi ini adalah bentuk penghormatan kepada alam dan Tuhan, serta simbol kerjasama antara petani dan pabrik gula.

Penggambaran dalam film adalah interpretasi fiktif yang menambahkan elemen horor untuk kepentingan cerita.


Tujuan dan Makna Ritual

Ritual ini bukan sekadar tradisi seremonial, tetapi memiliki makna yang dalam, antara lain:

1. Memohon berkah


Ritual ini dilakukan sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan agar proses penggilingan tebu berjalan lancar dan hasil produksi gula melimpah.


2. Menghormati alam dan leluhur


Tradisi ini mencerminkan penghormatan terhadap alam dan roh-roh leluhur yang diyakini menjaga tanah dan tanaman.


3. Simbol kesuburan dan keseimbangan


Pernikahan tebu menggambarkan keseimbangan energi laki-laki dan perempuan, harapan akan kesuburan tanah, serta keberhasilan panen. 

Baca Juga: Resto Sunda Viral di Jogja! Lalawuh Sunda Hadirkan Sensasi Rasa Autentik dari Tanah Pasundan


Prosesi Ritual Tebu Manten
Setiap daerah bisa memiliki sedikit perbedaan dalam prosesi, tapi biasanya terdiri dari beberapa tahap:


• Pemilihan tebu manten: Tebu jantan dan betina (ditentukan berdasarkan ruas dan arah daunnya) dipilih secara khusus.


• Rias manten: Tebu dirias dengan pakaian adat, diberi hiasan janur, bunga melati, dan bahkan kadang menggunakan sanggul dan blangkon.


• Upacara pernikahan: Dipimpin oleh dukun, lengkap dengan sesaji, doa-doa Jawa, dan kadang iringan gamelan.


• Kirab manten: Tebu manten diarak menuju pabrik gula atau lokasi pemrosesan sebagai simbol pembuka musim giling.


Apakah Masih Dilakukan Sekarang?


Ritual ini masih dilestarikan di beberapa daerah seperti di Pabrik Gula Colomadu (Karanganyar), Pabrik Gula Tasikmadu, hingga di kawasan Kediri dan Mojokerto.

Meskipun sebagian orang memandangnya sebagai tradisi kuno, banyak yang tetap menghargainya sebagai warisan budaya dan simbol harapan masyarakat tani. (Adinda Fatimatuzzahra)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#gaib #Film #ritual #tebu manten #Budaya #budaya jawa #tumbal #pabrik gula #tradisi seremonial #horor #makna