Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengungkap Mitos-Mitos di Balik Budaya Jathilan: Antara Seni, Mistis, dan Kepercayaan

Meitika Candra Lantiva • Selasa, 5 November 2024 | 00:05 WIB
Kesenian tradisional Jathilan atau kuda lumping.
Kesenian tradisional Jathilan atau kuda lumping.

RADAR JOGJA – Jathilan, kesenian tradisional yang kerap kali disebut "kuda lumping," bukan hanya sekadar tarian, tetapi juga merupakan perwujudan budaya Jawa yang sarat akan mitos dan kepercayaan mistis.

Pertunjukan ini identik dengan gerakan tarian yang energik dan dramatis, serta melibatkan properti kuda tiruan dari anyaman bambu.

Selain gerakannya yang unik, jathilan dipercaya memiliki hubungan kuat dengan dunia mistis, di mana para penarinya sering mengalami kesurupan, yang menjadikan kesenian ini semakin menantang sekaligus misterius.

Berikut adalah beberapa mitos populer yang melekat pada budaya Jathilan dan masih dipercaya oleh sebagian masyarakat Jawa:

1. Mitos Kesurupan sebagai Bukti Kekuatan Gaib

Kesurupan atau trance yang dialami oleh penari Jathilan seringkali dianggap sebagai bukti bahwa mereka telah “dimasuki” roh leluhur atau makhluk halus yang membantu memberi kekuatan saat menari.

Kondisi kesurupan ini dipercaya sebagai tanda kesuksesan dalam penampilan, di mana roh penari dianggap ikut menari bersama, menambah energi dan aura magis dari pertunjukan tersebut.

2. Kuda Lumping sebagai Lambang Keberanian dan Perlindungan


Kuda lumping, atau kuda anyaman yang menjadi properti utama Jathilan, diyakini memiliki makna simbolis sebagai lambang keberanian.

Masyarakat mempercayai bahwa kuda lumping ini dapat memberikan perlindungan kepada penarinya dari gangguan roh jahat selama pertunjukan berlangsung.

Sebelum tampil, kuda lumping seringkali diberi sesaji khusus sebagai bentuk penghormatan agar selalu "berdaya."

3. Ritual Sesaji untuk Penjaga Gaib


Sebelum pertunjukan dimulai, sesaji atau persembahan berupa makanan, bunga, dan dupa seringkali dipersiapkan untuk makhluk gaib yang dianggap menjaga lokasi pementasan.

Mitos ini berkaitan erat dengan kepercayaan bahwa tanpa sesaji, para penari dapat mengalami gangguan mistis atau insiden tak diinginkan selama pertunjukan.

4. Mitos tentang Penggunaan Susuk atau Azimat Khusus

Sebagian masyarakat meyakini bahwa penari Jathilan, terutama mereka yang terlibat dalam peran tertentu seperti warok atau pemimpin kelompok, sering kali menggunakan susuk atau azimat khusus untuk meningkatkan kekuatan mereka selama pertunjukan.

Azimat ini diyakini mampu membuat penari memiliki kekebalan terhadap benda tajam, seperti pecut, beling, atau paku, yang sering dipakai dalam atraksi-atraksi berbahaya.

5. Mitos Pemanggilan Roh Leluhur untuk Kelancaran Pementasan


Jathilan dipercaya melibatkan pemanggilan roh leluhur yang diharapkan memberi kekuatan kepada para penari.

Pawang atau pemimpin biasanya melakukan doa dan ritual tertentu untuk memohon izin dari leluhur agar pementasan berjalan lancar dan penonton terhibur tanpa gangguan.

Walaupun tidak semua orang percaya pada mitos-mitos ini, masyarakat Jawa masih menghormati aspek-aspek budaya dan keyakinan yang melekat pada Jathilan.

Bagi sebagian orang, kesenian Jathilan bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana untuk menghormati leluhur dan mempererat hubungan dengan dunia spiritual.

Melalui mitos dan kepercayaan, Jathilan tetap hidup dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Jawa, menjadikannya tradisi yang kaya akan nilai-nilai spiritual dan artistik.

Meskipun zaman telah berubah, Jathilan tetap memikat penonton dan masyarakat yang ingin menikmati keindahan seni dan mistisnya, sambil menjaga warisan budaya leluhur yang penuh misteri. (Azka Fahreza Antoni Putra)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#mitos #jathilan #kekuatan gaib #kuda lumping #kepercayaan #Budaya #unik #kesenian tradisional #kesurupan #Mengungkap #Seni #misterius #mistis #penari