RADAR JOGJA - Dalam Bahasa Indonesia, kata Lembayung memiliki berbagai makna yang indah dan penuh filosofi.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), lembayung merupakan tumbuhan yang memiliki bunga berwarna ungu, dengan nama ilmiah Basella rubra.
Namun, istilah ini juga sering kita temukan dalam konteks yang lebih puitis, yakni lembayung senja, yang kerap digunakan dalam karya sastra untuk menggambarkan keindahan langit saat matahari hampir tenggelam.
Tak hanya digunakan dalam sastra, dalam dunia astronomi, lembayung senja dijelaskan sebagai fenomena alam yang terjadi beberapa saat sebelum matahari terbenam.
Cahaya oranye keemasan yang menyelimuti langit ini merupakan hasil dari proses hamburan cahaya matahari oleh partikel-partikel di atmosfer bumi.
Fenomena inilah yang sering kita sebut sebagai sunset, yang selalu menjadi momen romantis nan syahdu bagi banyak orang.
Keindahan lembayung senja seolah membawa ketenangan tersendiri dan menjadi waktu favorit untuk dinikmati.
Namun, di balik kecantikan lembayung senja, ternyata fenomena ini juga menyimpan cerita-cerita mistis yang telah diwariskan secara turun-temurun dalam budaya masyarakat Indonesia.
Waktu senja sering dianggap sebagai waktu sakral, di mana makhluk ghaib dipercaya mulai muncul ke dunia manusia.
Oleh karena itu, banyak orang tua di masa lampau yang melarang anak-anak mereka untuk keluar rumah saat senja, guna menghindari hal-hal yang tak diinginkan.
Salah satu mitos yang paling populer terkait waktu senja adalah kisah tentang Wewe Gombel, hantu yang dikenal jahil dan suka menculik anak-anak yang berkeliaran saat matahari mulai terbenam.
Meskipun dikenal sebagai penculik, Wewe Gombel tidak bermaksud mencelakai anak-anak tersebut, melainkan hanya menyembunyikan mereka di tempat yang sulit ditemukan.
Sosok Wewe Gombel ini digambarkan sebagai perempuan berwujud menyeramkan, dengan ciri khas payudara yang sangat besar, yang konon dapat berubah wujud menjadi siapa saja.
Cerita Wewe Gombel sering dimanfaatkan oleh orang tua untuk menakut-nakuti anak-anak agar tidak bermain di luar rumah ketika senja.
Jika seorang anak hilang karena ulah Wewe Gombel, keluarga biasanya akan berkeliling kampung sambil membunyikan peralatan dapur, seperti panci dan wajan.
Bunyi-bunyian ini digunakan sebagai pengiring mantra berupa nyanyian, yang dilantunkan dengan ritme khas, "blek-blek ting, blek-blek ting," disertai penyebutan nama anak yang hilang, berharap sang anak akan muncul kembali dengan selamat.
Meskipun terdengar menyeramkan, mitos ini terus bertahan sebagai bagian dari budaya dan tradisi masyarakat, memberikan warna tersendiri dalam cerita rakyat Indonesia yang kaya akan nilai-nilai mistis.
Editor : Winda Atika Ira Puspita