RADAR JOGJA - Yogyakarta selain dikenal sebagai kota pelajar dan pusat budaya, juga memiliki banyak cerita horor dan mitos yang sudah lama beredar di masyarakat.
Berikut adalah beberapa cerita horor atau urban legend yang banyak beradar di Yogyakarta:
1. Hantu Mahasiswi di Kampus UGM
Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) yang terkenal dengan arsitektur kunonya juga memiliki banyak cerita horor yang beredar di masyarakat.
Salah satu cerita yang paling terkenal adalah penampakan hantu mahasiswi di beberapa gedung tua milik UGM.
Menurut cerita yang beredar, mahasiswi ini meninggal karena bunuh diri setelah mengalami tekanan akademis yang berat.
Penampakan hantu mahasiswi ini sering terlihat di lorong-lorong sepi, terutama di malam hari, dengan wajah yang penuh kesedihan.
2. Kuntilanak Merah di Jalan Babarsari
Jalan Babarsari di Yogyakarta juga dikenal sebagai lokasi yang angker, terutama pada malam hari. Banyak ceritar beredar bahwa pengendara motor yang melintasi jalan Babarsari melihat penampakan kuntilanak merah.
Menurut cerita, kuntilanak ini adalah arwah seorang wanita yang meninggal secara tragis di daerah tersebut.
Penampakannya sering terlihat sedang menangis atau tertawa dengan suara yang menyeramkan dan mengagetkan para pengendara.
3. Suara Tangisan di Jembatan Kretek
Jembatan Kretek yang berada di daerah kabupaten Bantul, juga dikenal sebagai tempat yang angker.
Banyak cerita yang mengatakan bahwa sering terdengar suara tangisan wanita di sekitar jembatan ini pada malam hari.
Menurut cerita yang beredar, suara tangisan tersebut adalah arwah seorang wanita yang meninggal secara tragis di tempat tersebut.
Suara tangisan ini sering membuat bulu kuduk merinding bagi siapa saja yang melintasi jembatan tersebut di malam hari.
4. Kereta Kencana Gaib di Alun-Alun Kidul
Alun-Alun Kidul Jogja adalah tempat yang selalu ramai oleh wisatawan yang sedang mencari keramaian dan mencicipi berbagai kuliner streetfood di sana serta ingin mencoba tradisi berjalan melewati dua pohon beringin besar dengan mata tertutup.
Namun, ada cerita mistis tentang kereta kencana gaib yang sering muncul di alun-alun ini.
Menurut cerita, kereta kencana ini adalah milik kerajaan gaib yang muncul di malam-malam tertentu untuk mencari korban.
Mereka yang melihat kereta kencana ini konon akan mengalami nasib buruk dalam hidupnya.
5. Sosok Tanpa Kepala Gentayangan di Malioboro
Jalan Malioboro adalah salah satu ikon Yogyakarta yang selalu ramai oleh wisatawan.
Namun, di balik keramaian tersebut, ada cerita mistis tentang penampakan sosok tanpa kepala.
Menurut cerita, sosok ini sering terlihat berjalan di sepanjang jalan Malioboro pada malam hari, terutama saat suasana mulai sepi.
Baca Juga: Messi Lurah, Akankah Harapan lamine Yamal untuk Pertandingan Finalissima Terkabul?
Banyak orang percaya bahwa sosok ini adalah arwah gentayangan dari korban kecelakaan lalu lintas atau korban pembunuhan yang belum menemukan ketenangan sehingga arwah tersebut menggentayangi lokasi Malioboro.
6. Tentara Belanda di Benteng Vredeburg
Benteng Vredeburg adalah salah satu situs sejarah yang terkenal di Jogja.
Namun, tempat ini juga memiliki cerita horor yang menyeramkan.
Berdasarkan cerita yang beredar, sering terlihat penampakan tentara Belanda sedang berpatroli di sekitar benteng, terutama pada malam hari.
Beberapa penjaga malam mendengar suara langkah kaki dan bayangan patung tentara yang tiba-tiba menghilang.
7. Penjaga Gaib Taman Sari
Taman Sari adalah bekas taman kerajaan yang kini menjadi salah satu destinasi wisata recomended di Yogyakarta.
Namun, tempat ini juga memiliki cerita horor tentang penjaga gaib yang sering muncul.
Menurut cerita, penjaga gaib ini adalah arwah dari prajurit kerajaan yang masih setia menjaga tempat tersebut.
Penampakan prajurit ini sering terlihat berpatroli di sekitar taman, terutama di malam hari namun tidak mengganggu siapapun.
Cerita-cerita horor ini menambah nuansa mistis dan menarik dari Kota Yogyakarta, menciptakan daya tarik tersendiri bagi mereka yang penasaran dengan dunia gaib.
Meskipun sebagian besar cerita ini adalah mitos atau legenda, cerita-cerita ini tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya dan tradisi lisan yang hidup di masyarakat Jogja.
Penulis: Jaiz Setya Nurjati
Editor : Bahana.