RADAR JOGJA - Malam di Yogyakarta selalu punya cerita. Di balik keramaian dan gemerlap lampu kota, ada satu tempat yang menyimpan segudang misteri dan mitos yang hingga kini masih menjadi perbincangan, Alun-Alun Kidul.
Terletak di belakang Keraton Yogyakarta, Alun-Alun Kidul atau Alun-Alun Selatan tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga menyimpan kisah-kisah yang memikat dan kadang menggetarkan hati.
Ketika senja mulai menyelimuti kota, Alun-Alun Kidul berubah menjadi pusat aktivitas malam yang penuh warna.
Para pedagang kaki lima menjajakan berbagai makanan dan minuman, anak-anak berlarian dengan riangnya, sementara pasangan muda-mudi berjalan bergandengan tangan menikmati suasana.
Namun, di tengah keramaian itu, ada satu atraksi yang selalu menarik perhatian yakni tradisi Masangin.
Masangin, atau berjalan di antara dua pohon beringin besar yang terletak di tengah alun-alun dengan mata tertutup, merupakan salah satu kegiatan yang paling populer di Alun-Alun Kidul.
Konon, siapa yang berhasil melewati kedua pohon tersebut dengan mata tertutup, maka segala keinginan dan harapannya akan terkabul.
Namun, tak semudah itu! Meski terlihat sederhana, banyak yang tersesat dan berakhir menyimpang jauh dari jalur.
Mengapa begitu sulit? Mitos yang berkembang menyebutkan bahwa kedua pohon beringin ini dijaga oleh makhluk gaib yang akan menggoda dan mengalihkan siapa saja yang mencoba berjalan di antaranya.
Menurut cerita rakyat, pohon-pohon beringin ini tidak hanya menjadi penanda alun-alun, tetapi juga menjadi gerbang ke dunia lain yang penuh misteri.
Ada yang percaya bahwa roh leluhur keraton bersemayam di sini, menjaga keseimbangan antara alam manusia dan alam gaib.
Namun, di balik mitos dan misteri tersebut, ada penjelasan ilmiah yang cukup menarik. Beberapa pakar mengatakan, bahwa kegagalan orang untuk berjalan lurus saat Masangin disebabkan oleh fenomena psikologis yang disebut sebagai "veering tendency."
Ketika mata ditutup, keseimbangan tubuh menjadi terganggu, dan tanpa disadari, kita cenderung berbelok ke arah yang dominan dari tubuh kita. Jadi, bukan semata-mata karena godaan makhluk gaib, tetapi lebih kepada bagaimana otak kita berfungsi.
Meski demikian, kepercayaan dan mitos tetap kuat di tengah masyarakat. Bagi mereka, Alun-Alun Kidul bukan hanya sekadar tempat wisata, tetapi juga ruang spiritual yang menghubungkan mereka dengan sejarah dan warisan leluhur.
Kisah-kisah tentang suara-suara misterius, penampakan makhluk gaib, dan pengalaman-pengalaman aneh lainnya menambah daya tarik tempat ini, menjadikannya lebih dari sekadar alun-alun biasa.
Setiap malam, suasana mistis semakin terasa saat angin malam berhembus pelan, membawa aroma bunga dan suara-suara alam yang samar.
Di sinilah, di bawah naungan beringin besar, mitos dan kenyataan berbaur, menciptakan cerita-cerita yang tak lekang oleh waktu.
Alun-Alun Kidul, dengan segala misteri dan pesonanya, terus menjadi saksi bisu dari kehidupan kota yang tak pernah tidur, tempat di mana tradisi dan modernitas berpadu harmonis.
Jadi, jika suatu hari kamu berkesempatan mengunjungi Yogyakarta, jangan lupa untuk menyempatkan diri ke Alun-Alun Kidul.
Cobalah berjalan di antara kedua beringin itu, rasakan adrenalin dan keajaiban yang menyelimuti tempat ini.
Siapa tahu, kamu bisa merasakan sendiri sentuhan misteri malam di Alun-Alun Kidul, antara mitos dan kenyataan. (Sergio Jubilleum Asqueli)
Editor : Winda Atika Ira Puspita