RADAR JOGJA - Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur memiliki legenda urban yang terkenal.
Tepatnya di Desa Golan dan Desa Mirah, sama-sama dari Kecamatan Sukorejo.
Konon dua desa ini tak pernah bersatu.
Terdapat larangan khusus antara Desa Golan dan Desa Mirah.
Keduanya, mustahil dihubungkan.
Mengusut kisah misterius Desa Golan dan Desa Mirah, Berikut mitos cerita yang beredar dan berkembang di masyarakat setempat hingga sekarang. Antara lain:
1. Di antara mitos tersebut adalah air dari Desa Golan tidak mau bercampur dengan Desa Mirah.
2. Orang akan kebingungan ketika membawa barang atau benda dari Desa Golan ke Desa Mirah begitu sebaliknya.
3. Orang Mirah tidak diperkenankan menanam kedelai.
4. Orang Golah dan rang Mirah jika bertemu di tempat orang hajatan mana saja akan mengalami gangguan.
5. Tidak akan terjadi perkawinan antara orang Golan dan Mirah.
Jika larangan tersebut dilanggar, konon dapat menimbulkan bencana bagi kedua desa.
Dalam mitosnya, Desa Golan dan Desa Mirah tidak bisa terhubung sejak tahun 1440-an.
Pada saat itu hiduplah seorang pemuda bernama Joko Lancur, yang merupakan anak dari Ki Ageng Honggolono.
Ki Ageng Honggolono merupakan sesepuh Desa Golan.
Joko Lancur memiliki hobi sabung ayam.
Pada suatu hari, Joko Lancur pergi mengadu ayam timah kuning miliknya.
Namun ketika hendak berkelahi, ayam tersebut lari ke Desa Mirah atau yang kini berubah nama menjadi Desa Nambangrejo.
Tak disangka, ayam milik Joko Lancur itu lari ke rumah seorang perempuan cantik bernama Mirah Putri Ayu.
Gadis ini merupakan putri dari Ki Ageng Hanggojoyo atau dikenal dengan Ki Ageng Mirah.
Saat itu, Mirah Putri Ayu sedang merajut baju di rumah.
Di sisi lain, Joko Lancur yang sedang mengejar ayamnya justru terpesona dengan penampilan Mirah Putri Ayu.
Keduanya saling bertatap pandang. Semakin dalam menatap, Joko Lancur terpesona dan jatuh cinta dengan kecantikan Mirah Putri Ayu.
Lantas, Joko Lancur pun mantap ingin menikahi Mirah Putri Ayu.
Hingga dia mengutus ayahnya, Ki Honggolono untuk menemui Ki Ageng Mirah, bermaksud hendak melamarkan Mirah Putri Ayu untuk anaknya, Joko Lancur.
Namun karena Ki Ageng Mirah tidak suka dengan niat Joko Lancur. Tetua Desa Mirah pun memberikan syarat kepada Joko Lancur untuk mengairi seluruh sawah di desanya dalam waktu satu malam.
Jika berhasil ia akan menikahkan anaknya.
Joko Lancur pun menyetujui syarat tersebut.
Ia kemudian membendung Sungai Sekayu agar airnya bisa mengairi sawah di seluruh Desa Mirah.
Namun ketika syarat tersebut terpenuhi, Ki Ageng Mirah tetap tidak setuju dan memberikan syarat lain kepada Joko Lancur.
Syarat berikutnya yaitu, ia dan keluarganya harus membawa meja yang penuh dengan kedelai dan bisa terbang.
Karena tak suka dengan Joko Lancar yang hanya suka berjudi dan bermain sabung ayam, lantas diapun berupaya menggagalkan syarat kedua ini.
Ki Angeng Mirah mengganti isi lumbung hanya dengan kawuli atau jerami, bukan kedelai.
Ki Ageng Hanggolono merasakan bahwa syarat yang diberikan Ki Angeng Mirah seakan mempermainkannya.
Hal ini menimbulkan pertengkaran hebat antara dua keluarga Ki Ageng Hanggolono dan Ki Angeng Mirah.
Ki Ageng Hanggolono dan Ki Ageng Mirah sama-sama mengucapkan pepatah yang masih bertahan hingga saat ini.
Baca Juga: Ini Dia Beberapa Kerusuhan Yang Menyebabkan Babarsari Mendapatkan Sebutan Gotham City nya Yogyakarta
Ki Ageng Mirah mengatakan bahwa masyarakat desa Golan tidak bisa menjaga kawulinya dan akan segera kembali.
Pada saat yang sama, Ki Ageng Hanggolono berjanji bahwa masyarakat Desa Mirah tidak boleh menanam kedelai.
Belum lagi, mereka berdua bersumpah bahwa masyarakat desa tidak boleh menikah.
Dan mitos tersebut masih dipegang teguh oleh masyarakat desa hingga saat ini.
Gimana sob? Cukup menegangkan bukan erita urban legend Golan Mirah yang fenomenal ini? Tertarik mengunjungi lokasinya langsung?
Editor : Meitika Candra Lantiva