RADAR JOGJA - Meski manusia dianggap sebagai spesies paling cerdas di bumi, para ahli primata dalam berbagai penelitian menemukan bahwa banyak hewan yang sebenarnya jauh lebih cerdas dari yang orang dipikirkan.
Kerajaan hewan menampilkan berbagai kecerdasan, termasuk kesadaran diri, kemampuan memecahkan masalah, dan kemampuan komunikasi yang canggih.
Terdapat beberapa hewan di dunia ini yang dianggap cerdas selain dari spesies monyet (seperti simpanse, monyet rhesus, orangutan) dan spesies burung (seperti kakak tua, gagak, beo abu-abu Afrika, burung dara).
Lumba-lumba
Lumba-lumba sangat cerdas karena otaknya lebih besar dari manusia, sehingga lumba-lumba memiliki sistem komunikasi yang kompleks dan mampu mengamati sesuatu yang terjadi di sekitarnya dengan lebih cepat.
Selain itu, lumba-lumba juga menunjukkan kesadaran diri, kemampuan ekolokasi, dan kemampuan meniru.
Beberapa spesies lumba-lumba bahkan juga menggunakan suara siulan yang berbeda untuk mengidentifikasi satu sama lain.
Gurita
Gurita dikenal dengan hewan yang cerdas dalam melarikan diri dari predator atau pemangsanya tanpa meninggalkan jejak.
Hal ini disebabkan karena gurita termasuk hewan invertebrata, sehingga bisa bergerak dengan lincah.
Pada umumnya, gurita memiliki cangkir hisap di bagian bawah lengannya. Mereka juga seperti memiliki pikiran sendiri karena jumlah neuron di lengannya lebih besar dibanding yang ada di kepalanya.
Oleh karenanya, gurita akan lebih fokus saat berjalan atau menjelajahi berbagai jenis gua. Seringkali lengannya juga digunakan untuk mencari makan, sehingga memungkinkan gurita bergerak dengan cepat.
Gajah
Gajah bisa mengenali dirinya di cermin, sehingga membedakannya dengan hewan lain yang bingung mengenali dirinya ketika di depan cermin, seperti kucing dan anjing yang akan bereaksi ketika melihat pantulan dirinya di cermin.
Gajah merupakan hewan sosial yang dinilai memiliki sifat penyayang, empati dan mampu bekerja sama, terutama dalam memecahkan masalah.
Gajah juga dapat menggunakan benda di hadapannya, meski tidak sepintar simpanse.
Selain itu, gajah diyakini memiliki kemampuan mengingat sesuatu, terutama jalan atau rute dengan mengikuti jejak kaki.
Anjing
Kemampuan kognitif anjing dikenal lebih baik ketimbang kucing karena jumlah neuron di korteks anjing dua kali lipat dari kucing.
Jumlah neuron ini berkontribusi pada kemampuan belajar dan berlatih, sehingga mengkonfirmasi laporan anekdotal bahwa anjing lebih mudah dilatih.
Polisi juga menjadikan anjing sebagai pemburu atau pelacak.
Namun, membutuhkan pelatihan khusus untuk menjadikan anjing sebagai pemburu atau pelacak.
Tupai
Selain menjadi hewan insektivora, tupai juga memakan kacang kenari.
Bahkan , beberapa penelitian menyebut tupai abu-abu bisa mengingat ribuan kacang kenari yang telah dikubur selama berbulan-bulan.
Tupai juga memiliki kemampuan unik untuk mengecoh predatornya. Ketika sedang mengubur makanan, dia akan tahu kalau sedang diikuti.
Akibatnya, mereka akan memindahkan makanan mereka ke ketiak atau ke mulutnya. Kemudian, makanan tersebut akan dipindahkan ke tempat lain ketika dirasa sudah aman.
Lebah
Lebah sering dijuluki sebagai serangga terpintar di dunia karena memiliki kemampuan kognitif yang mengesankan. Lebah mampu memecahkan teka-teki dan navigasi yang luar biasa.
Melalui kunjungan berulang, lebah bisa mempersingkat waktu perjalanan dengan kemampuan mempelajari rute terbaik menuju sumber makanan mereka (bunga).
Seperti halnya manusia, lebah juga bisa membuat gambaran mental tentang dunia sekitar mereka.
Asalkan pernah melihat sebelumnya, mereka bahkan bisa mengenali objek dalam kegelapan hanya dengan sentuhan.
Rakun
Ternyata rakun tidak hanya menggemaskan dan cerdas, namun juga mempu membentuk hierarki yang teratur. Hubungan satu rakun dengan yang lain bahkan bisa membentuk suatu wilayah.
Selain itu, rakun dianggap memiliki kemampuan komunikasi yang kompleks hingga memungkinkan mereka berhubungan baik satu sama lain.
Penelitian ilmiah terus mengungkap kemampuan luar biasa yang dimiliki berbagai makhluk hidup di bumi, meski konsep kecerdasan hewan ini masih diperdebatkan dan sulit untuk mengukur secara pasti karena perbedaan dalam cara berpikir dan kebutuhan bertahan hidup antar spesies. (Ruhana Maysarotul Muwafaqoh)
Editor : Meitika Candra Lantiva