RADAR JOGJA - Dunia sains kembali mencatat penemuan besar setelah tim peneliti internasional dari University of California, Berkeley (UC Berkeley) bersama para ilmuwan Cili berhasil menemukan spesies penguin baru.
Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Communications Biology pada April 2026 ini menjadi catatan penemuan spesies penguin baru pertama dalam lebih dari 100 tahun terakhir.
Penelitian ini juga mengungkap bahwa penguin gentoo yang selama ini dikira sebagai satu jenis hewan yang sama, ternyata terbagi menjadi empat spesies yang berbeda secara genetik.
Spesies baru yang berhasil diidentifikasi diberi nama Pygoscelis kerguelensis.
Baca Juga: Hapus Makeup Satset, G2G Micellar Water Jadi Pilihan Skincare Praktis Anak Muda
Penguin jenis ini hidup terisolasi di Kepulauan Kerguelen di Samudra Hindia bagian selatan, yang berjarak sekitar 450 kilometer dari daratan terdekat.
Secara fisik, mereka hampir tidak bisa dibedakan dari penguin gentoo pada umumnya.
Meski demikian, hasil riset menunjukkan adanya perbedaan yang jelas pada ukuran tubuh, suara, dan struktur genetik mereka.
Rauri Bowie, seorang profesor di UC Berkeley, menjelaskan bahwa perdebatan mengenai klasifikasi penguin gentoo telah berlangsung selama lebih dari satu abad.
Melalui penelitian mutakhir ini, para ilmuwan akhirnya resmi menaikkan status tiga kelompok penguin gentoo yang sebelumnya hanya dianggap sebagai kelompok kecil (subspesies) menjadi spesies mandiri.
Baca Juga: Bawa Semangat Perjuangan Pahlawan, Palfore Pangudi Luhur Tampil Memukau di AQUA DBL Dance
Ketiga spesies tersebut adalah Pygoscelis taeniata yang hidup di Kepulauan Crozet, Marion, dan Macquarie; Pygoscelis papua di Kepulauan Falkland/Malvinas serta Martillo; serta Pygoscelis ellsworthi yang merupakan kelompok terbesar dan hidup di Semenanjung Antarktika serta wilayah sekitarnya.
Dalam riset ini, para ilmuwan menganalisis kode genetik lengkap dari puluhan individu penguin di berbagai koloni.
Hasilnya menunjukkan bahwa keempat kelompok spesies ini telah terpisah dan berkembang secara mandiri sejak 300.000 hingga 500.000 tahun lalu.
Faktor utama yang membuat mereka terpisah adalah jarak geografis serta batas suhu air laut ekstrem di Samudra Selatan yang membuat mereka sulit berpindah tempat.
Baca Juga: Drama 40 Menit, Pangudi Luhur Tundukkan SMAN 1 Kasihan 42-37 di DBL Jogja
Karena hidup di lingkungan yang berbeda, setiap spesies juga mengembangkan kemampuan tubuh yang unik.
Penguin di Antartika memiliki keunggulan genetik untuk menahan dingin dan menyimpan cadangan energi, sementara kelompok lainnya memiliki keunggulan dalam hal metabolisme makanan serta kemampuan menyelam di dalam air.
Di balik keunikan tersebut, temuan ini juga membawa kekhawatiran baru terkait ancaman perubahan iklim.
Berdasarkan pemodelan cuaca, para peneliti memperkirakan habitat penguin gentoo di wilayah kepulauan sub-Antartika berisiko menjadi tidak layak huni pada tahun 2050.
Kondisi daratan yang terbatas membuat mereka akan kesulitan untuk berpindah ke tempat lain yang lebih aman.
Baca Juga: Jelang Hadapi Kendal Tornado FC, Ricky Nelson Benahi Finishing dan Koordinasi PERSIS
“Di Antartika, tentu saja, spesies lain, bukan penguin gentoo, terancam oleh perubahan iklim. Tetapi penguin gentoo adalah yang paling mengkhawatirkan di wilayah sub-Antartika,” ujar Juliana Vianna, salah satu profesor dari Andres Bello National University, Cili, dikutip dari suara pers UC Berkeley.
Sehubungan dengan hal tersebut, Juliana juga menekankan pentingnya kerja sama berbagai pihak.
Menurutnya, lembaga konservasi di berbagai negara harus segera mengakui keberadaan keempat spesies penguin ini secara resmi agar langkah penyelamatan yang tepat dapat segera diambil.
Editor : Meitika Candra Lantiva