Bukan Umpatan, Bajingan di Omah Kecebong Ternyata Punya Peran Menjaga Tradisi Jawa

Rahmawati Wulandari • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 14:26 WIB
Wisatawan menikmati suasana pedesaan di Sleman dengan gerobak sapi yang dikendalikan oleh "bajingan", sebutan tradisional bagi pengemudi gerobak sapi yang menjaga kelestarian tradisi Jawa.
Wisatawan menikmati suasana pedesaan di Sleman dengan gerobak sapi yang dikendalikan oleh "bajingan", sebutan tradisional bagi pengemudi gerobak sapi yang menjaga kelestarian tradisi Jawa.

SLEMAN – Mendengar kata "bajingan", sebagian besar orang mungkin langsung menganggapnya sebagai kata kasar atau umpatan. Namun, di Omah Kecebong, Tirtoadi, Mlati, Sleman, istilah tersebut justru memiliki makna yang berbeda dan menjadi bagian dari warisan budaya Jawa.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, bajingan adalah sebutan bagi orang yang mengemudikan atau mengendalikan gerobak sapi. Profesi ini dahulu memiliki peran penting sebagai pengangkut hasil pertanian sekaligus alat transportasi masyarakat pedesaan sebelum kendaraan bermotor berkembang.

Tradisi tersebut kini masih dapat dijumpai melalui wisata gerobak sapi yang menjadi salah satu daya tarik di Omah Kecebong.

Omah Kecebong menghadirkan pengalaman menyusuri pedesaan dengan menaiki gerobak yang ditarik sapi. Wisatawan diajak menikmati hamparan sawah, jalan kampung, hingga kawasan Selokan Mataram sambil merasakan suasana khas pedesaan Sleman.

Baca Juga: Steven Gerrard Beri Tanggapan soal JJ Gabriel yang Ingin Tinggalkan Manchester United

Di balik perjalanan itu, terdapat sosok bajingan yang bertugas mengendalikan gerobak dan memastikan perjalanan berlangsung aman. Mereka bukan sekadar kusir, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman wisata budaya yang mengenalkan kehidupan masyarakat desa kepada para pengunjung.

Salah satu pengendali gerobak sapi tersebut tergabung dalam kelompok wisata Manunggal Lestari, yang bekerja sama dengan Omah Kecebong untuk melayani wisatawan lokal maupun mancanegara.

Pada masa lalu, gerobak sapi merupakan sarana transportasi utama masyarakat pedesaan. Kendaraan ini digunakan untuk mengangkut hasil panen, kebutuhan sehari-hari, hingga menjadi alat mobilitas antarwilayah.

Kini, Omah Kecebong menghidupkan kembali fungsi gerobak sapi sebagai atraksi wisata budaya tanpa menghilangkan nilai tradisinya.

Rute wisata membawa pengunjung melintasi kawasan Bulak Kaweden, Jembatan Gombang, menyusuri Selokan Mataram, hingga Jembatan Rajek. Sepanjang perjalanan, wisatawan dapat melihat aktivitas pertanian, suasana persawahan, serta kehidupan masyarakat di sekitar kawasan tersebut.

Pengalaman ini menjadi cara untuk mengenalkan kembali transportasi tradisional yang pernah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Jawa.

Istilah bajingan memiliki sejarah yang panjang dalam budaya Jawa. Dalam konteks tradisional, kata ini merujuk pada profesi pengemudi gerobak sapi, bukan sebagai makian atau kata bernada negatif seperti yang umum dipahami saat ini.

Perubahan makna terjadi seiring perkembangan bahasa dalam kehidupan sehari-hari, sehingga banyak orang lebih mengenal kata tersebut sebagai umpatan.

Melalui wisata budaya di Omah Kecebong, makna asli istilah itu kembali diperkenalkan kepada masyarakat.

Baca Juga: Kuota Penerima Bansos Bertambah, Warga Yang Tak Pernah Dapat Kini Mulai Menerima

Keberadaan para bajingan di Omah Kecebong menunjukkan bagaimana profesi tradisional masih dapat bertahan dan beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Gerobak sapi yang dulu menjadi alat angkut hasil bumi kini berubah fungsi menjadi media edukasi sekaligus wisata budaya. Sementara para pengendalinya tetap mempertahankan keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun.

Di Omah Kecebong, perjalanan dengan gerobak sapi bukan hanya menikmati pemandangan pedesaan. Setiap perjalanan juga membawa cerita tentang kehidupan masyarakat desa, sejarah transportasi tradisional, dan upaya menjaga warisan budaya Jawa agar tetap hidup di tengah modernisasi.

Editor : Bahana.
Sleman omah kecebong gerobak sapi budaya jawa wisata budaya