Berastepu, Desa yang Sunyi di Bawah Bayang-Bayang Gunung Sinabung

Frencia Keliat • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 15:12 WIB
Rumah-rumah terbengkalai di Desa Berastepu, kaki Gunung Sinabung, Kabupaten Karo. Sumber foto: https://vt.tiktok.com/ZSqgHMXDD/
Rumah-rumah terbengkalai di Desa Berastepu, kaki Gunung Sinabung, Kabupaten Karo. Sumber foto: https://vt.tiktok.com/ZSqgHMXDD/ 

 KARO – Di kaki Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, terdapat sebuah permukiman yang kini nyaris tanpa aktivitas warga. Desa Berastepu menjadi salah satu desa yang terdampak erupsi Gunung Sinabung dan ditinggalkan penduduknya sejak aktivitas erupsi meningkat pada 2010.

Dahulu, Berastepu merupakan permukiman yang dihuni masyarakat yang sebagian besar bekerja sebagai petani. Kehidupan warga berlangsung seperti desa pada umumnya, dengan rumah-rumah yang berdiri berdampingan serta lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Namun, aktivitas Gunung Sinabung mengubah kehidupan warga. Erupsi yang terjadi berulang kali membuat masyarakat harus meninggalkan rumah dan lingkungan tempat mereka tinggal demi keselamatan. Pemerintah kemudian melakukan relokasi terhadap warga dari sejumlah desa yang terdampak, termasuk Berastepu.

Baca Juga: Jenguk Kondisi Siswa Keracunan MBG di Karo, Wapres Gibran Inisiatif Suruh Ibu Bawakan Bekal Anaknya

Desa Berastepu perlahan berubah. Sejumlah rumah tampak kosong dan tidak terawat. Rumput serta tanaman liar tumbuh di sekitar bangunan. Beberapa bagian rumah mengalami kerusakan, sementara bangunan lainnya mulai tertutup oleh tumbuhan yang tumbuh tanpa perawatan.

Suasana sunyi menjadi pemandangan yang menonjol ketika memasuki kawasan desa. Tidak lagi terlihat aktivitas masyarakat seperti dahulu. Jalan-jalan desa yang pernah dilalui warga kini lebih sepi, sementara rumah-rumah yang ditinggalkan menjadi saksi kehidupan masyarakat sebelum erupsi Gunung Sinabung.

Kondisi tersebut membuat Berastepu kerap disebut sebagai desa mati. 

Sebelumnya, sekitar 200 rumah warga dilaporkan ditinggalkan setelah masyarakat mengungsi akibat erupsi Sinabung. Sebagian warga berpindah ke tempat tinggal sementara, menyewa rumah, maupun tinggal bersama keluarga sebelum kemudian mengikuti proses relokasi.

Baca Juga: Proyeksi TKD 2027 Hanya Rp 759,4 Miliar, Pemkot Jogja Tunda Sejumlah Proyek Infrastruktur 

Meski demikian, Desa Berastepu tidak sepenuhnya kehilangan jejak kehidupan masa lalu. Rumah, jalan, serta sejumlah bangunan yang masih berdiri menjadi pengingat bahwa kawasan tersebut pernah menjadi tempat tinggal masyarakat Karo selama bertahun-tahun.

Relokasi juga membuat masyarakat harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Kehidupan yang sebelumnya berpusat di desa dan lahan pertanian harus dijalani di kawasan tempat tinggal yang baru. Penelitian mengenai masyarakat Berastepu menunjukkan bahwa warga tetap mengandalkan berbagai strategi untuk mempertahankan kehidupan sosial dan ekonomi setelah berpindah ke kawasan relokasi.

Pemerintah Kabupaten Karo juga masih memasukkan Desa Berastepu dalam penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana erupsi Sinabung. Dokumen pemerintah daerah mencantumkan Berastepu sebagai salah satu desa yang masuk dalam relokasi tahap kedua.

Baca Juga: Gol Ke-100 Lionel Messi untuk Inter Miami Pastikan Gelar Campeones Cup, Taklukkan Cruz Azul di Final

Kini, Berastepu menjadi gambaran tentang bagaimana bencana alam dapat mengubah sebuah permukiman dalam waktu yang panjang. Di bawah bayang-bayang Gunung Sinabung, rumah-rumah yang kosong dan jalan desa yang sunyi menyimpan cerita tentang masyarakat yang pernah membangun kehidupan di tempat tersebut.(Frencia Keliat)

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber
Desa Berastepu Gunung Sinabung unik Erupsi desa