Ada sebuah kebiasaan unik yang masih dipertahankan masyarakat di Dusun Kasuran, Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan, Sleman. Warga setempat memiliki pentangan tidur menggunakan kasur berbahan kapuk.
Kepercayaan tersebut telah diwariskan secara turun-temurun. Masyarakat meyakini penggunaan kasur kapuk dapat mendatangkan sakit bagi orang yang melanggarnya. Karena itu, warga Kasuran memilih menggunakan alas tidur lain seperti tikar, dipan, kasur busa, maupun kasur dengan bahan lain selain kapuk.
Namun, pantangan tersebut sebenarnya tidak berarti bagi warga Kasuran sama sekali tidak menggunakan kasur. Yang dihindari adalah kasur yang menggunakan kapuk sebagai bahan isi. Hal tersebut juga pernah ditegaskan oleh Dukuh Kasuran Wetan, Suparman. “Jadi tidak pakai kasur kapuk. Bukan tidak menggunakan kasur,” jelasnya.
Berbagai cerita berkembang mengenai asal-usul pantangan tersebut. salah satunya berkaitan dengan kisah Sunan Kalijaga yang disebut pernah beristirahat di wilayah Kasuran. Cerita yang beredar menyebutkan Sunan Kalijaga pernah menggunakan alas berbahan kapuk dan kemudian mengalami kejadian tertentu hingga masyarakat mengaitkannya dengan pantangan menggunakan kasur kapuk.
Baca Juga: Prediksi Manchester United vs Manchester City: Derby Manchester Memanas, Haaland Siap Hantui Old Tra
Versi cerita lainnya berkaitan dengan pasangan Kyai Kasur (Kasuran Kulon) dan Nyai Kasur ( Kasuran Wetan) yang disebut sebagai pengikut Pangeran Diponegoro. Keduanya dikisahkan memiliki perbedaan pendapat hingga kemudian berpisah dan bersumpah tidak tidur di kasur sebelum cita-cita Pangeran Diponegoro tercapai. Cerita tersebut kemudian diwariskan kepada keturunannya dan berkembang menjadi kepercayaan masyarakat.
Mitos tersebut juga disertai berbagai cerita mengenai orang yang disebut mengalami sakit setelah tidur menggunakan kasur kapuk. Salah satu kisah yang berkembang menyebutkan seorang warga yang menggunakan kasur kapuk kemudian jatuh sakit. Setelah kasur tersebut tidak lagi digunakan, kondisi orang tersebut dikisahkan kembali membaik.
Meski demikian, kepercayaan tersebut lebih tepat dipandang sebagai bagian dari tradisi dan cerita masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tidak terdapat bukti ilmiah bahwa kasur kapuk secara khusus menyebabkan penyakit seperti yang dipercaya dalam mitos tersebut.
Keunikan Dusun Kasuran menunjukkan bagaimana sebuah cerita yang diwariskan sejak lama dapat membentuk kebiasaan masyarakat. Di tengah perkembangan zaman, pantangan terhadap kasur kapuk masih menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.
Bagi warga Kasuran, menjaga kebiasaan tersebut bukan semata-mata mengenai boleh atau tidaknya menggunakan kasur kapuk. Lebih dari itu, pantangan tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap cerita leluhur yang telah diwariskan dan terus hidup di tengah masyarakat.