Mengenal Suku Boti di NTT yang Unik: Hidup Mandiri Tanpa Bahan Kimia dan Tolak Modernisasi

Melia Indah Puspitasari • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 11:14 WIB
Suku Boti, suku pedalaman tertua di Pulau Timor. (sumber: Instagram @soe_kotadingin)
Suku Boti, suku pedalaman tertua di Pulau Timor. (sumber: Instagram @soe_kotadingin)

 

RADAR JOGJA - Indonesia memiliki beragam kekayaan suku bangsa.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) ada 1.340 suku yang tersebar dari Sabang hingga Merauke.

Satu di antaranya suku Boti. 

Suku Boti merupakan salah satu masyarakat adat yang berada di Pulau Timor.

Berada jauh dari hiruk-pikuk kehidupan modern, masyarakat Boti masih mempertahankan kehidupan yang sederhana dan dekat dengan alam.

Baca Juga: Dari Mencari Judul hingga Revisi Berulang, Suka Duka Mahasiswa dalam Menyelesaikan Skripsi

Berbagai kebiasaan dan aturan adat tetap dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, membuat kehidupan di wilayah ini terasa berbeda dari kehidupan masyarakat pada umumnya. 

Suku Boti mendiami wilayah perbukitan di Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.

Di tengah kawasan perbukitan tersebut, masyarakat Boti terus menjaga tradisi dan cara hidup yang telah diwariskan secara turun-temurun. 

Masyarakat Boti terbagi menjadi dua, yakni Boti Luar dan Boti Dalam.

Baca Juga: Bangga Putrinya Lulus PNS, Ayah Wili Mbuik Kini Berduka: Tewas Saat Mengabdi di Papua

Boti luar dihuni oleh warga yang sudah memeluk agama serta mengenal pendidikan formal, sedangkan Boti dalam masih memegang kepercayaan nenek moyang.

Kehidupan masyarakat Suku Boti ini sangat bergantung pada alam.

Mayoritas dari mereka masih mengolah lahan secara tradisional tanpa ada campur tangan teknologi modern dan menghindari segala bentuk bahan kimia.

Menariknya, Suku Boti ini sangat mandiri dan tidak bergantung pada hal-hal di luar wilayahnya.

Baca Juga: Bangga Putrinya Lulus PNS, Ayah Wili Mbuik Kini Berduka: Tewas Saat Mengabdi di Papua

Semua kebutuhan diolah dan dikerjakan langsung sama masyarakatnya sendiri.

Bahkan, raja dari suku ini juga tidak mau menerima bantuan dari pemerintah.

Hal ini didasarkan pada prinsip untuk selalu hidup mandiri dan lebih memilih mengisolasi dari kehidupan luar. 

Salah satu hal unik dari Suku Boti terlihat dari cara mereka menyikapi tindakan kriminal yang dilakukan oleh masyarakatnya.

Ketika ada warga yang mencuri, misalnya mencuri ayam, mereka tidak langsung menghakimi dan memberikan hukuman.

Baca Juga: Menjadi Starter setelah Sempat Dua Kali Pingsan di Lapangan, Jamal Musiala Langsung Cetak Gol

Sebaliknya, ayam yang dicuri justru diberikan kepada orang tersebut.

Cara ini dilakukan sebagai bentuk pendekatan agar pelaku menyadari kesalahannya dan kembali menjadi masyarakat yang baik serta taat pada aturan adat.

Sang raja memilih untuk memenuhi kebutuhan orang tersebut dengan meminta beberapa warga memberikan hasil yang mereka miliki.

Harapannya, ketika kebutuhan hidupnya tercukupi, orang tersebut tidak lagi memiliki alasan untuk mencuri dan dapat hidup dengan lebih sejahtera.

sBaca Juga: PBB-P2 Gunungkidul Sudah Tembus Rp 20,3 Miliar, Masih Kejar Rp 5,74 Miliar

Kehidupan masyarakat Suku Boti menunjukkan bagaimana kebersamaan, kerukunan, dan kemandirian masih menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.

Mereka memiliki cara sendiri dalam menjaga hubungan antar masyarakat sekaligus mempertahankan aturan adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Keberadaan Suku Boti juga menjadi salah satu gambaran bahwa di tengah perkembangan zaman, masih ada masyarakat adat yang memilih untuk tetap mempertahankan cara hidupnya.

Seperti halnya Suku Baduy di Jawa Barat dan masyarakat adat Kajang di Sulawesi Selatan, Suku Boti di Nusa Tenggara Timur juga dikenal dengan kehidupan yang sederhana dan kuat memegang adat istiadat.

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
Suku Boti NTT Kehidupan Suku Boti Suku Boti Timor Tengah Selatan Masyarakat Adat NTT Tradisi Unik Suku Boti