GUNUNGKIDUL- Ada sebuah kampung kecil di wilayah Kabupaten Gunungkidul yang menyimpan kisah unik dan penuh misteri.
Namanya kampung pitu yang keberadaanya di puncak sisi timur kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran, Kelurahan Nglanggeran, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul.
Nama Kampung Pitu bukan sekadar nama. Dalam bahasa Jawa, “pitu” berarti tujuh.
Sesuai dengan namanya, kampung ini memang memiliki keunikan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Di Kampung Pitu hanya terdapat tujuh kepala keluarga yang menempati kawasan tersebut dan jumlahnya dipercaya telah bertahan sejak dahulu.
Baca Juga: Korban MBG Makin Berjatuhan, Suara Ibu Indonesia Ajak Aksi Jalan Sore Pukul Panci
Konon, pada zaman dahulu ada orang Keraton Yogyakarta yang menemukan pohon Kinah Gadung Wulung yang di dalamnya berisi sebuah pusaka.
Dari penemuan tersebut, pihak keraton membuat sebuah wasiat dan sayembara bagi siapa pun yang bisa menjaga dan merawat pohon pusaka tersebut, akan diberi tanah secukupnya untuk dihuni hingga anak cucu mereka.
Dari wasiat tersebut, Mbah Iro Kromo yang berhasil memenangkan sayembara tersebut. Hingga saat ini, tujuh kepala keluarga yang menduduki Kampung Pitu adalah keturunan Mbah Iro Kromo.
Misterinya, jika ada jumlah kepala keluarga yang lebih dari tujuh, maka ada hal buruk yang akan terjadi.
Baca Juga: VIRAL! Abu Vulkanik Membuat Netizen Teringat Kembali Masa Era Masker Saat Pandemi Covid
Jadi sampai saat ini, warga patuh dengan aturan yang sudah melekat tersebut.
Penduduk kampung percaya, apabila terdapat keluarga kedelapan yang mencoba untuk tinggal di Kampung Pitu, biasanya akan muncul kejadian aneh.
Mulai dari anggota keluarga yang jatuh sakit berulang kali, mengalami berbagai kejadian yang tidak biasa, hingga akhirnya memilih pindah dengan sendirinya dari Kampung Pitu.
Dari hal tersebut, tak heran jika Kampung Pitu ini tidak pernah terlihat mempunyai penduduk yang lebih dari tujuh kepala keluarga.
Secara tidak langsung, tujuh kepala keluarga yang sudah berhasil menduduki Kampung Pitu ini adalah orang-orang terpilih.
Maka dari itu, jika ada penduduk lain yang nekat untuk tinggal bersama, maka akan terseleksi dengan sendirinya dan tidak akan bertahan lama dan jumlahnya balik lagi tetap hanya tujuh keluarga.
Baca Juga: Donasi Patungan untuk Hutan Tembus Rp6 Miliar dalam Sepekan
Menariknya, meski hanya dihuni oleh sedikit kepala keluarga, kehidupan masyarakat di Kampung Pitu justru berjalan dengan rukun dan harmonis.
Jumlah penduduk yang terbatas membuat hubungan antarwarga terasa lebih dekat.
Mereka saling mengenal, berinteraksi, dan membantu satu sama lain dalam berbagai keperluan sehari-hari.
Kedekatan tersebut membuat suasana kekeluargaan begitu terasa, meskipun kampung ini hanya dihuni oleh tujuh kepala keluarga.
Editor : Meitika Candra Lantiva