Tuan Besar Berhidung Panjang, Monyet Kalimantan yang Jago Menyelam dan Berperut Sapi

Perawati • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 12:06 WIB
Ilustrasi Bekantan di pulau Kalimantan. (Pinterest)
Ilustrasi Bekantan di pulau Kalimantan. (Pinterest)

Indonesia menyimpan kekayaan keanekaragaman hayati yang tak ada habisnya, salah satunya adalah bekantan (Nasalis larvatus).

Monyet endemik pulau Kalimantan ini tidak hanya mudah dikenali lewat wajahnya yang unik bak karakter kartun, tetapi juga menyimpan segudang kemampuan fisik luar biasa yang membedakannya dari jenis primata lain di dunia.

Ciri paling menonjol dari bekantan adalah hidungnya yang berukuran besar dan terkulai. Menariknya, ciri fisik ini hanya dimiliki oleh bekantan jantan. Dalam dunia bekantan, semakin besar dan panjang hidung yang dimiliki seekor jantan, semakin tinggi pula daya tarik seksualnya di mata para betina. 

Selain sebagai penarik perhatian lawan jenis, hidung besar ini berfungsi sebagai amplifier alami yang memperkeras gema suara panggilan mereka di sekitar area hutan bakau.

Penampilan fisik ini makin unik berkat perpaduan gaya rambut rapi serta jenggot putih pada jantan, yang membuat masyarakat lokal zaman dahulu menjulukinya sebagai "monyet Belanda".

Berbeda dengan kebanyakan primata yang cenderung menghindari air, bekantan dikenal sebagai perenang paling andal di dunia primata. Bekantan dibekali selaput renang tipis di antara jari kaki dan tangannya, menyerupai kaki bebek.

Baca Juga: Dikira Sudah Padam, Bara Jerami Kembali Menyala dan Bakar Kandang Sapi di Nglipar

Fitur anatomi ini memungkinkan mereka menyeberangi sungai selebar ratusan meter demi mencari wilayah pakan baru atau melarikan diri dari ancaman predator seperti buaya.

Tak hanya berenang di permukaan, bekantan juga sanggup menyelam di dalam air hingga sejauh 20 meter saat menghadapi situasi bahaya.

Bentuk tubuh bekantan yang identik dengan perut buncit memiliki penjelasan ilmiah tersendiri. Perut besar tersebut merupakan wadah bagi sistem pencernaan kompleks yang bekerja mirip seperti sistem pencernaan pada sapi.

Bekantan memiliki organ pencernaan multi-ruang yang diisi oleh bakteri khusus untuk mengfermentasi makanan.

Mekanisme ini membuat bekantan mampu mengonsumsi daun-daun muda dan buah-buahan mentah yang umumnya mengandung gas tinggi atau beracun bagi jenis primata lainnya.

Meski dibekali adaptasi fisik yang tangguh, populasi bekantan saat ini berada dalam kondisi terancam. Alih fungsi lahan dan kerusakan ekosistem hutan bakau serta hutan rawa gambut di Kalimantan menjadi faktor utama penurunan populasi mereka.

Baca Juga: Kalahkan Ronaldo dan Mbappe, Erling Haaland Lebih Cepat untuk Cetak 300 Gol untuk Klub

Kini, bekantan masuk dalam daftar satwa yang dilindungi oleh undang-undang. Upaya pelestarian habitat alami menjadi kunci utama agar primata unik berhidung panjang ini tetap lestari di ala

Editor : Bahana.
bekantan monyet hidung besar kalimantan