Muncul di Pantai Pink Lombok Timur, Benarkah Oarfish Disebut ‘Ikan Kiamat’?

Farah Rizki Ramadhan • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 11:46 WIB
Seekor oarfish sepanjang 4 meter ditemukan dalam kondisi mati di Pantai Pink, Lombok Timur, NTB pada 25 Agustus 2026. (Sumber: Baiqkolby/Facebook)
Seekor oarfish sepanjang 4 meter ditemukan dalam kondisi mati di Pantai Pink, Lombok Timur, NTB pada 25 Agustus 2026. (Sumber: Baiqkolby/Facebook)
 

 

RADAR JOGJA - Kemunculan Oarfish sepanjang empat meter di Pantai Pink, Lombok Timur, NTB, sempat membuat kehebohan pada 25 Agustus 2026. 

Masyarakat Indonesia juga menyebut ikan ini sebagai ‘ikan kiamat’ lantaran kemunculannya dipercayai sebagai pertanda terjadinya bencana alam. 

Namun, apakah prasangka tersebut benar?

Tentang Oarfish


Oarfish atau Ikan Raja Herring  (Regalecus sp) adalah salah satu ikan yang berasal dari family Regalecidae dan merupakan ikan bertulang sejati terpanjang di dunia.

Ikan ini dapat tumbuh hingga mencapai 36 kaki atau sekitar 11 meter.

Bahkan, Oarfish raksasa ditemukan memiliki panjang hingga 17 meter. 

Nama “Oarfish” diketahui berasal dari bentuk tubuh atau sirip dadanya yang sangat padat dan memanjang menyerupai oar atau dayung.

Baca Juga: Pasar Tumpah Pringgondani Balikpapan, Pasar Unik yang Lestarikan Nuansa Jawa di Perantauan

Ikan ini biasa hidup di perairan mesopelagik, yaitu 200 hingga 1.000 meter di bawah permukaan laut, dan tersebar di sekitar perairan laut pasifik maupun di daerah laut pasifik timur dan atlantik.

Kaitan Oarfish dengan Prasangka Bencana Alam


Dalam folklor Jepang, Oarfish dikenal sebagai “utusan dari Istana Dewa Laut” yang dianggap sebagai pertanda gempa bumi dan tsunami ketika terdampar di pantai. 

Menurut Jurnal dari Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (FPK UNAIR), terdapat beberapa hipotesis tentang prasangka ini. 

Pertama, ikan ini memiliki sensitivitas tinggi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungannya.

Oleh sebab itu, saat terjadi perubahan lingkungan yang signifikan di sekitarnya, Oarfish relatif akan berpindah posisi dan mencari tempat yang dirasanya lebih optimum untuk ditinggali.

Baca Juga: Sama-sama Terbuat dari Ketan dan Gula Merah, Ini Perbedaan Wajik dan Wajit Makanan Khas Tradisional

Pada umumnya, perubahan secara drastis dapat dipicu oleh pergerakan tektonik di dasar laut. Gempa dasar laut ini lah yang memicu tsunami.

Kedua, ikan ini naik ke permukaan dalam keadaan mati dan mengambang akibat fenomena gempa di dasar laut, kemudian bangkai tubuhnya terbawa arus hingga mencapai permukaan dan akhirnya terdampar di pantai.

Namun, para peneliti menegaskan bahwa belum ada penelitian lebih lanjut yang memperkuat kebenaran prasangka ini.

Ikan Oarfish hidup di kedalaman 200-1.000 meter di bawah permukaan laut. (Sumber: pinterest)
Ikan Oarfish hidup di kedalaman 200-1.000 meter di bawah permukaan laut. (Sumber: pinterest)

 

Pasalnya, penelitian mengenai Oarfish biasanya dilakukan pada ikan yang terdampar dan sudah mati, karena habitat ikan tersebut yang berada di laut dalam membuat penelitian ikan ini secara hidup-hidup masih sulit dilakukan.

Sebaliknya, sebuah penelitian di Jepang melaporkan di antara 221 kejadian gempa berkekuatan lebih dari 6 magnitudo yang terjadi sekitar tahun 1928-2011, serta 336 kasus kemunculan Oarfish di permukaan laut pada periode yang sama, hanya satu kejadian gempa yang memenuhi prasangka tersebut.

Baca Juga: Pieter Huistra: PSS Seharusnya di Sini, Semusim di Championship Membuat Kami Lebih Rendah Hati

Gempa kuat terjadi dalam rentang 30 hari sejak ikan tersebut ditemukan dalam radius 100 kilometer. 

Artinya, kekhawatiran masyarakat atau klaim masyarakat terkait kemunculan Oarfish di permukaan laut menandakan akan segera terjadinya bencana alam: gempa/tsunami belum terbukti secara ilmiah.

Prasangka ini hanya tersebar dari mulut ke mulut melalui cerita rakyat (folklor). 

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
Sumber : IPB DIGITANI, FPK UNAIR, dan The Mainichi
Pantai Pink Lombok Timur Oarfish Ikan Kiamat Ikan Oarfish Tentang Oarfish