RADAR JOGJA – Kemampuan kuda menemukan jalan pulang meski pandangannya terbatas kerap dianggap sebagai sesuatu yang misterius. Ada yang mengaitkannya dengan “indra keenam”. Padahal, kemampuan navigasi pada kuda dapat dijelaskan melalui kerja berbagai sistem sensorik dan kemampuan mengingat lingkungan.
Kuda tidak hanya mengandalkan mata untuk mengenali rute. Hewan ini memiliki kemampuan mengingat lingkungan, mengenali kondisi medan, serta memanfaatkan pendengaran dan penciuman untuk membantu menentukan arah.
Karena itu, ketika penglihatannya terganggu, kuda masih dapat menggunakan informasi lain yang telah diperoleh sebelumnya untuk mengenali lingkungan.
Mengandalkan Ingatan Ruang
Salah satu bagian penting dalam kemampuan navigasi hewan adalah hippocampus, wilayah otak yang berperan dalam pembentukan dan penyimpanan memori spasial.
Baca Juga: Bukan Cuma Air, Presiden Prabowo Dorong Ubi Bombing dan Material Kimia untuk Padamkan Karhutla
Ketika melewati suatu rute berulang kali, kuda dapat mempelajari berbagai karakter lingkungan di sekitarnya. Bentuk jalur, posisi tertentu, kondisi permukaan, hingga tanda-tanda lingkungan dapat menjadi bagian dari ingatan tersebut.
Informasi itu kemudian membantu kuda mengenali lokasi dan menentukan arah. Jadi, ketika mata ditutup, bukan berarti seluruh informasi mengenai lingkungan tiba-tiba hilang.
Selain memori spasial, kuda juga dapat memperoleh informasi dari gerakan tubuh dan pola langkah. Perubahan jarak serta posisi tubuh selama berjalan menjadi bagian dari informasi yang membantu hewan tersebut memperkirakan pergerakannya.
Kaki Membaca Kondisi Medan
Kaki kuda juga memiliki peran penting dalam mengenali lingkungan. Struktur kaki dan sistem saraf sensoriknya memungkinkan kuda merasakan perubahan tekanan serta kondisi permukaan tempat berpijak.
Perbedaan antara permukaan keras, lunak, berbatu, atau berumput dapat memberikan informasi tambahan ketika hewan bergerak.
Namun, hal ini bukan berarti kaki kuda mampu mendeteksi “getaran bumi” seperti alat navigasi khusus. Informasi yang diterima berasal dari rangsangan mekanis dan tekanan pada tubuh yang kemudian diproses oleh sistem saraf.
Selain kaki, rambut sensorik di sekitar wajah dan moncong juga membantu kuda mengenali benda-benda yang berada sangat dekat. Struktur tersebut berfungsi sebagai sensor sentuhan sehingga dapat membantu hewan menghindari objek ketika jarak pandang terbatas.
Pendengaran dan Penciuman Ikut Bekerja
Ketika penglihatan berkurang, pendengaran menjadi salah satu sumber informasi penting bagi kuda. Telinga kuda dapat bergerak mengikuti arah suara sehingga hewan tersebut mampu memperoleh gambaran mengenai kondisi lingkungan di sekitarnya.
Suara air, kendaraan, aktivitas manusia, atau suara kelompoknya dapat menjadi petunjuk tambahan. Kemampuan ini sangat berguna bagi hewan yang hidup dalam lingkungan terbuka dan harus tetap waspada terhadap potensi ancaman.
Penciuman juga membantu kuda mengenali lingkungan. Aroma tumbuhan, tanah, air, maupun bau dari hewan lain dapat memberikan informasi mengenai lokasi tertentu.
Meski demikian, kemampuan tersebut tidak berarti kuda memiliki “GPS biologis” yang secara otomatis menunjukkan rute pulang. Navigasi merupakan hasil kerja bersama berbagai sistem sensorik dan memori.
Kemampuan Bertahan Hidup
Baca Juga: Huistra Ungkap PSS Sleman Kian Sempurna Jelang Super League 2026/2027
Kemampuan mengandalkan lebih dari satu indra memiliki nilai penting dalam kehidupan kuda. Sebagai hewan mangsa, kuda perlu tetap mampu bergerak dan mengenali lingkungan ketika kondisi penglihatan tidak optimal, misalnya saat malam, hujan deras, atau lingkungan berdebu.
Dalam kondisi seperti itu, mengandalkan satu indra saja tentu tidak cukup. Otak menggabungkan berbagai informasi dari tubuh dan lingkungan untuk membantu menentukan respons yang paling sesuai.
Itulah sebabnya kuda yang sudah mengenal suatu rute dapat terlihat seolah-olah mampu menemukan jalan tanpa bantuan penglihatan. Sebenarnya, hewan tersebut memanfaatkan pengalaman dan berbagai informasi sensorik yang tersedia.
Jadi, kemampuan kuda untuk bernavigasi bukanlah bukti adanya kekuatan mistis. “Kompas alami” mereka merupakan hasil perpaduan memori spasial, persepsi gerak, sentuhan, pendengaran, penciuman, serta kemampuan otak dalam mengintegrasikan berbagai informasi tersebut.
Kemampuan inilah yang membuat kuda menjadi salah satu hewan dengan sistem navigasi yang menarik untuk dipelajari, sekaligus menunjukkan betapa kompleksnya cara otak makhluk hidup beradaptasi dengan lingkungan.