Dunia sains kembali digemparkan oleh temuan dari perairan Pulau Talise, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Tim peneliti menggabungkan riset kolaborasi dan berhasil mendokumentasikan 18 individu ikan purba Coelacanth (Latimeria menadoensis), spesies langka dengan garis keturunan yang telah ada sejak 400 juta tahun lalu.
Spesies yang sering disebut masyarakat lokal Manado sebagai ikang raja lao ini dahulu sempat dianggap punah jutaan tahun lalu. Temuan terbaru ini menjadi salah satu catatan terbanyak dalam sejarah eksplorasi Coelacanth di Indonesia.
Fenomena Unik dalam Gua Laut dan Bukti Reproduksi
Ekspedisi kolaborasi antara BRIN, OceanX, dan NHK mengungkapkan fenomena yang belum pernah tercatat sebelumnya. Pada lokasi gua bawah laut Pulau Talise yang sempat disurvei pada 2009 dan hanya mencatat empat individu, survei terbaru merekam 18 individu dengan 11 ekor di antaranya hidup bersama dalam satu gua.
Penemuan Spesimen Muda: Peneliti menemukan seekor juvenil atau anak Coelacanth sepanjang 26 sentimeter di Teluk Amurang yang memberikan indikasi penting terkait lokasi reproduksi.
Temuan Telur Spesimen: Melalui teknologi modern seperti eDNA dan CT Scan, peneliti mendeteksi keberadaan 22 butir telur di dalam tubuh salah satu spesimen Coelacanth.
Pada Mei 2025 lalu, tercatat bahwa spesimen Coelacanth dewasa juga sempat terekam di kedalaman 145 meter di Maluku Utara oleh tim penyelam.
Temuan penting ini diperpresentasikan dalam simposium Marine Futures Unlocked 2 di Jakarta oleh Prof. Alex Masengi dari Universitas Sam Ratulangi dan Prof. Augy Syahailatua dari BRIN. Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara telah memproses dokumen persetujuan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan guna menetapkan kawasan perairan Pulau Talise sebagai taman suaka habitat Coelacanth.
Setelah tahapan konservasi tingkat nasional selesai dituntaskan, pemerintah dan para peneliti bersiap mengusulkan perairan Pulau Talise di kawasan Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle) sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Langkah ini diharapkan tidak hanya melindungi ekosistem sang fosil hidup, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat penelitian keanekaragaman hayati laut dunia serta mendukung sektor riset, pendidikan, dan ekowisata. (Tita Aurelia Pitaloka)
Editor : Bahana.