RADAR JOGJA - Sidik jari merupakan salah satu identitas alami yang dimiliki setiap manusia. Menariknya, hingga saat ini tidak ada dua orang di dunia yang diketahui memiliki pola sidik jari yang benar-benar identik, bahkan pada pasangan kembar identik sekalipun.
Sidik jari mulai terbentuk saat janin berusia sekitar 10 hingga 16 minggu di dalam kandungan. Polanya dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik dan kondisi lingkungan di dalam rahim, seperti tekanan, posisi janin, hingga aliran cairan ketuban. Kombinasi tersebut membuat setiap sidik jari berkembang dengan pola yang berbeda.
Secara umum, sidik jari memiliki tiga pola utama, yakni “loop (melengkung), “whorl” (berputar), dan “arch”(melengkung sederhana). Meski pola dasarnya sama, detail berupa garis dan percabangannya tetap berbeda pada setiap individu.
Baca Juga: Libur Sekolah Dongkrak Kunjungan Wisata, Pemprov Prediksi 1,7 Juta Wisatawan Berlibur ke Yogyakarta
Keunikan inilah yang membuat sidik jari dimanfaatkan dalam berbagai bidang, mulai dari identifikasi kependudukan, penyelidikan forensik, hingga sistem keamanan pada perangkat elektronik seperti ponsel pintar dan komputer.
Para ahli forensik menilai sidik jari menjadi salah satu metode identifikasi paling akurat karena polanya bersifat permanen. Setelah terbentuk sejak dalam kandungan, pola tersebut umumnya tidak berubah sepanjang hidup, kecuali mengalami cedera yang merusak lapisan kulit secara permanen.
Selain menjadi alat identifikasi, sidik jari juga menunjukkan betapa uniknya setiap manusia. Meski memiliki kemiripan secara fisik dengan orang lain, setiap individu tetap memiliki ciri khas yang tidak dapat disamakan, termasuk melalui pola sidik jarinya.
Seli Sulistiani
Editor : Iwa Ikhwanudin