Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Invasi 'Iblis Merah': Mengapa Ikan Red Devil Kini Diburu Habis-habisan Seperti Ikan Sapu-Sapu?

Meitika Candra Lantiva • Senin, 11 Mei 2026 | 10:59 WIB
Ikan Red Devil. (Kolase Pinterest)
Ikan Red Devil. (Kolase Pinterest)

 

RADAR JOGJA – Ternyata bukan hanya ikan Sapu-sapu saja yang menjadi ancaman habitat sungai di Indonesia. 

Ternyata ada juga ikan Red Devil.

Baru-baru ini, ikan Red Devil di Waduk Sermo Kulon Progo diberantas.

Lantaran populasinya yang tinggi, mengancam keberadaan ikan lokal, seperti Mujair, Wader dan Nilem.

Keberadaan ikan Red Devil menarik perhatian para aktivis lingkungan dan nelayan lokal.

Ikan ini dikenal sebagai ikan predator yang jauh lebih agresif atau dengan bahasa latin ikan Amphilophus labiatus.

Ikan yang memiliki warna jingga kemerahan yang mencolok ini bukan lagi sekadar penghuni akuarium, melainkan telah menjadi "hama nasional" yang mengancam ketahanan pangan dari sektor perikanan darat.

1. Dari Hobi Menjadi Invasi

Awalnya, Red Devil masuk ke Indonesia sebagai ikan hias karena warnanya yang eksotis.

Ikan-ikan ini kemudian dibudidaya di perairan yang cenderung luas.

Namun, akibat pelepasan liar (introductory species) oleh pemilik yang tidak bertanggung jawab, ikan asal Amerika Tengah ini berhasil mendominasi ekosistem lokal, seperti di Waduk Gajah Mungkur, Danau Toba, hingga Rawa Pening.

2. Predator Berdarah Dingin

Berbeda dengan ikan sapu-sapu yang bersifat pembersih, Red Devil adalah predator sejati. Fakta menarik yang mengerikan meliputi:

Agresivitas Tinggi: Mereka sangat teritorial dan tidak ragu menyerang ikan lain yang ukurannya lebih besar.

Pemakan Segala: Mereka memakan telur ikan asli (endemik), larva, hingga pakan ikan budidaya, yang menyebabkan populasi ikan lokal seperti nila dan tawes merosot drastis.

3. Kemampuan Reproduksi di Luar Nalar

Alasan mengapa ikan ini kini diburu masif adalah kecepatannya dalam berkembang biak.

Ikan Red Devil mampu bertelur dalam jumlah ribuan hanya dalam waktu singkat dan memiliki daya tahan tubuh yang luar biasa terhadap kualitas air yang buruk.

Hal inilah yang membuatnya menyandang status "hama" yang setara bahkan lebih berbahaya daripada ikan sapu-sapu.

Perlawanan dari Akar Rumput: "Tangkap dan Manfaatkan"

Sebagai jurnalis dan aktivis, saya melihat adanya pergeseran strategi dalam menangani hama ini.

Pemerintah dan komunitas nelayan kini mulai menggalakan gerakan pembersihan waduk dari Red Devil.

"Kita tidak bisa hanya mengandalkan pemusnahan tanpa solusi. Ikan ini harus bernilai ekonomis agar masyarakat semangat memburunya," ujar salah satu aktivis lingkungan saat ditemui di lapangan.

Beberapa fakta pemanfaatan Red Devil saat ini:

Bahan Baku Pakan Ternak: Karena kandungan proteinnya yang cukup tinggi, ikan ini mulai diolah menjadi tepung ikan.

Produk Olahan Konsumsi: Di beberapa daerah, warga mulai mengolah daging Red Devil menjadi keripik atau krupuk ikan, meskipun ukurannya tidak sebesar ikan konsumsi pada umumnya.

Opini Aktivis: Mengapa Kita Harus Peduli?

Kehadiran Red Devil adalah pengingat keras bagi kita semua.

Ikan invasif adalah polusi biologis. 

Mereka tidak bisa dibersihkan semudah menyaring sampah plastik; sekali mereka mapan di sebuah ekosistem, hampir mustahil untuk menghilangkannya secara total.

Kita butuh regulasi yang lebih ketat mengenai pelepasan spesies asing ke perairan umum.

Membiarkan Red Devil merajalela sama saja dengan membiarkan kepunahan ikan-ikan asli Indonesia terjadi di depan mata kita.

Mari beraksi, Jangan lepas ikan asing ke sungai atau danau kita!

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#ikan sapu-sapu #habitat sungai #fakta menarik #ancaman #Ikan red devil