Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

GPIB Beth-El Magelang Buat Pohon Natal 10 Meter dari Tali Rafia sebagai Pesan Toleransi dan Ramah Lingkungan

Naila Nihayah • Senin, 22 Desember 2025 | 05:25 WIB

 

 

Ornamen pohon Natal berdiri gagah di depan GPIB Beth-El Magelang, Minggu (21/12).
Ornamen pohon Natal berdiri gagah di depan GPIB Beth-El Magelang, Minggu (21/12).

 

 

MAGELANG — Sebuah pohon Natal setinggi 10 meter berdiri kokoh di kawasan Alun-alun Kota Magelang. Bukan terbuat dari bahan mewah atau konstruksi permanen, ornamen raksasa yang dihadirkan Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Beth-El Magelang itu justru dirangkai dari tali rafia seberat sekitar 35 kilogram.

Kesederhanaan bahan itulah yang kini menarik perhatian warga, sekaligus menyampaikan pesan iman, kepedulian, dan toleransi. Pohon Natal dengan diameter dasar sekitar lima meter itu dipasang sebagai bagian dari rangkaian perayaan Natal di gereja yang dibangun pada 1817 itu.

Ketua II Pengurus Harian Majelis Jemaat GPIB Beth-El Magelang Reno Ranuh menyebut, pohon Natal itu bukan sekadar ornamen dekoratif, melainkan pesan visual tentang iman yang membumi dan toleransi di ruang publik.

Terlebih, lanjut Reno, Kota Magelang dikenal sebagai salah satu kota toleransi di Indonesia. Di ruang publik ini ada masjid, gereja Protestan, gereja Katolik, kelenteng, dan vihara.

"Pohon Natal ini kami hadirkan bukan untuk mendominasi, tetapi untuk menerangi bersama," ujar Reno di depan gereja, Minggu (21/12).

Dia menuturkan, pohon Natal tersebut dirancang menjulang ke atas sebagai simbol iman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Namun tetap berpijak di bumi sebagai wujud kepedulian kemanusiaan.

Lampu-lampu yang menghiasi ornamen tidak dibuat berlebihan, melainkan cukup untuk memberi terang yang menyatu dengan suasana alun-alun dan aktivitas masyarakat.

Pemilihan tali rafia sebagai bahan utama juga bukan tanpa pertimbangan. Selain mudah didapat dan terjangkau, bahan tersebut dinilai lebih ramah lingkungan karena dapat digunakan kembali. Ide ini diprakarsai oleh seniman internal jemaat.

"Bahannya sederhana, murah, dan bisa didaur ulang. Ini sejalan dengan semangat kesederhanaan Natal," kata Reno.

Warna putih yang mendominasi ornamen, bintang di puncak pohon, serta rangkaian simbol lainnya dirancang untuk menggambarkan kelahiran Yesus sebagai bayi yang rapuh. Sekaligus mengingatkan pentingnya kepedulian terhadap kemanusiaan sejak dini.

Pendeta GPIB Beth-El Magelang Yannedelle Hehanussa-Sahetapy menjelaskan, persiapan Natal tahun ini tidak sekadar diarahkan pada kemeriahan simbolik. Melainkan pada makna kehadiran Kristus yang membawa damai sejahtera dan empati bagi sesama.

 

Karena itu, sejak awal pembentukan panitia, jemaat diajak untuk terlibat aktif, tidak hanya dalam perayaan, tetapi juga dalam aksi nyata kemanusiaan. "Yang utama bukan perayaannya, tetapi bagaimana kehadiran Kristus itu dihayati melalui sikap hidup," paparnya.

Sebab, kata dia, manusia hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk orang lain, untuk berbela rasa kepada mereka yang susah. Semangat tersebut, menurutnya, diwujudkan melalui berbagai kegiatan diakonia dan aksi sosial, baik untuk kebutuhan internal jemaat maupun bagi masyarakat di luar gereja.

Selama masa Adven empat minggu, jemaat mengumpulkan persembahan kasih berupa sembako yang dikelola panitia untuk disalurkan kepada mereka yang membutuhkan.

Termasuk pemulung dan petugas kebersihan di sekitar kota. Selain itu, GPIB Beth-El Magelang juga ikut terlibat dalam penggalangan bantuan bagi korban bencana di sejumlah daerah, seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Jawa Timur, melalui koordinasi dengan sinode pusat. (aya/pra)

Editor : Heru Pratomo
#jemaat #pohon natal #alun-alun #Magelang #sumatera #GPIB #adven #pendeta #Tali rafia