RADAR JOGJA - Rafflesia Hasseltii kembali menjadi sorotan sebagai salah satu bunga paling unik dan langka yang tumbuh di hutan-hutan Sumatra.
Dengan ukuran besar, pola kelopak menyerupai marmer merah, serta aroma menyengat yang menjadi ciri khasnya, bunga ini menghadirkan pesona yang tak tertandingi.
Kemunculannya yang jarang dan masa mekar yang singkat membuat setiap penampakan Rafflesia Hasseltii selalu menjadi momen istimewa bagi peneliti maupun pecinta alam.
Rafflesia Hasseltii adalah salah satu bunga yang berada di ambang kepunahan.
Bunga ini ditemukan kembali pada tahun 2025 setelah lebih dari satu decade pencarian.
Konservasi terakhir Rafflesia Hasseltii dilakukan pada tahun 2007.
Bunga Raffelsia Hasseltii ini ditemukan di kawasan Hutan Hujan Hirinh Batang Somi, kecamatan Sumpur Kudus, Sumatera Barat.
1. Jenis Rafflesia paling langka
Siklus hidup dari Rafflessia Hasseltii ini tergolong sangat singkat.
Bunga ini hanya mekar selama kurang lebih tujuh hari sebelum akhirnya layu.
Habitatnya yang sangat spesifik, populasi yang tidak merata, serta waktu mekar yang tidak dapat diprediksi dan sangat singkat membuat bunga ini menjadi sangat langka.
2. Parasit sempurna tanpa daun, batang, atau akar
Rafflesia Hasseltii tidak memiliki daun, batang, dan akar seperti tumbuhan pada umumnya. Bunga ini sepenuhnya bergantung pada tanaman inang Tetrasigma.
Bunga ini merupakan parasite murni (holoparasite) yang sepenuhnya menyerap nutrisi dari tumbuhan inangnya.
3. Inang yang spesifik
Bunga Rafflesia Hasseltii memiliki inang yang spesifik, yakni tumbuhan Tetrastigma.
Tumbuhan Tetrastigma masih satu keluarga dengan anggur hutan.
Hanya beberapa jenis Tetrastigma tertentu saja yang bisa terinfeksi dan menjadi inang Rafflesia Hasseltii.
Inang yang sangat spesifik inilah yang menjadi tantangan dalam budidaya dan restorasi.
4. Memiliki manfaat sebagai obat herbal
Rafflesia Hasseltii dapat dimanfaatkan menjadi ibat herbal.
Masyarakat adat biasa memanfaatkannya menjadi bahan ramuan tradisional.
Bunga ini mengandung senyawa nikotin, kafein, dan asam fenolat yang dipercaya dapat mempercepat penyembuhan luka. (Nauralya D)
Editor : Meitika Candra Lantiva