Kota Jogja selalu menyimpan sejuta "harta karun", baik berupa kekayaan alam maupun benda-benda bersejarah yang memiliki nilai historis tinggi. Di tengah hiruk-pikuk pusat kota, masih ada tempat yang menyimpan warisan masa lalu dalam bentuk benda-benda antik: Merpati Motor Jogja.
Terletak di Jalan Ahmad Dahlan No. 88, Ngampilan, Kota Jogja, Merpati Motor bukan sekadar bengkel atau showroom. Tempat ini adalah sebuah galeri sekaligus museum pribadi yang didirikan oleh Raden Sunarhandoko Secodiningrat, atau yang akrab disapa Handoko, pada 1989.
Sejak saat itu, Handoko telah mengoleksi ribuan barang antik, mulai dari motor dan mobil klasik, diecast, kacamata jadul, senjata tradisional, radio tua, hingga sepeda onthel. “Saya mulai mengoleksi sejak tahun 1989. Awalnya fokus pada motor dan mobil, kebanyakan buatan Eropa dan Amerika,” ungkap pria kelahiran 1955 itu.
Koleksi kendaraan antik di Merpati Motor sangat beragam. Deretan motor dan mobil klasik dari Jepang, Eropa, hingga Amerika berjajar rapi menghiasi halaman galeri. Merek-merek legendaris seperti Honda, Suzuki, Yamaha, Kawasaki, Harley Davidson, Jawa, Royal Enfield, BSA, Chevrolet, BMW, hingga Buick menjadi bukti ketekunan dan konsistensi Handoko dalam mengoleksi.
Motor dan mobil dalam koleksinya berasal dari berbagai rentang tahun, mulai dari produksi 1920-an hingga 2000-an. Jumlah total kendaraan yang dimiliki Handoko mencapai sekitar 600 unit.
Keinginan Handoko mengoleksi barang antik berawal dari keresahan pribadinya. Pada akhir 1980-an, ia melihat banyak motor buatan Eropa dan Amerika dijual ke luar negeri dengan harga sangat murah, bahkan ada yang hanya ditukar dengan sepeda jengki. Salah satu penyebabnya adalah karena suku cadang yang langka dan ketidakcocokan dengan penggunaan masyarakat Indonesia.
“Banyak motor buatan luar dijual sangat murah, bahkan ada yang hanya ditukar sepeda jengki. Alasannya karena suku cadang sulit didapat dan motor-motor itu dianggap tidak cocok untuk dipakai di Indonesia,” ujarnya.
Baca Juga: Jelang HUT ke-80 TNI, Polda Metro Jaya Turunkan 1.508 Personel Pengamanan
Berangkat dari kegelisahan tersebut, Handoko mulai membeli dan menyimpan motor-motor antik yang ia temui. Seiring waktu, semakin banyak orang datang kepadanya untuk menawarkan motor tua yang hendak dijual.
“Sejak saya mulai mengoleksi, orang-orang berdatangan menawarkan motor antik mereka,” tambahnya.
Baginya, barang-barang ini bukan sekadar koleksi, tapi penjaga sejarah. Ia berharap hobi ini bisa menjadi sumber edukasi bagi generasi mendatang, agar tidak kehilangan jejak sejarah yang melekat pada benda-benda tersebut.
“Kalau barang-barang ini tidak dirawat, generasi berikutnya tidak akan tahu cerita dan sejarahnya. Maka dari itu, saya jaga dan rawat supaya tetap bisa dinikmati,” tutur Handoko dengan penuh semangat.
Antonius Bondan Satrio Aji
Editor : Heru Pratomo