RADAR JOGJA – Gunung Slamet merupakan gunung berapi tertinggi di atap Jawa Tengah, tidak hanya dikenal karena keindahan alam dan jalur pendakiannya saja, namun Gunung Slamet juga dikenal akan budaya serta tradisi masyarakat yang tinggal di lerengnya.
Hingga kini, berbagai ritual adat masih dijalankan sebagai wujud rasa syukur sekaligus upaya menjaga harmoni dengan alam.
Tradisi-tradisi ini bukan sekadar ritual spiritual, melainkan juga sarana menjaga kelestarian lingkungan dan memperkuat ikatan sosial.
Berikut merupakan tradisi dan budaya yang dilestarikan di Gunung Slamet :
1. Tradisi Ruwat Bumi
Salah satu tradisi penting di lereng Gunung Slamet adalah Ruwat Bumi, dikenal juga sebagai sedekah bumi di beberapa kawasan.
Ritual ini dilakukan warga sebagai wujud syukur atas hasil alam dan permohonan keselamatan dari bencana.
Misalnya, di Guci, Kabupaten Tegal, komunitas melakukan sedekah bumi dengan memandikan kambing kendit serta mengarak gunungan hasil bumi.
Di daerah lain, di sekitar kaki Gunung Slamet, di Desa Papringan, Kecamatan Banyumas, tradisi sedekah bumi dijalankan dengan doa oleh sesepuh adat, dengan panggung warisan budaya dan tampah berisi lauk-pauk dan gunungan sebagai simbol hasil bumi yang diberkati oleh alam.
2. Ritual Pengambilan Air Suci: Tuk Sikopyah & 1 Suro
Pada malam 1 suro, Di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, terdapat sumber mata air suci bernama Tuk Sikopyah.
Masyarakat di sana melakukan ritual pengambilan air suci yang dipimpin oleh sesepuh dan diiringi kirab, berupa gunungan hasil bumi dan sesaji, sebagai wujud syukur atas berkah alam.
Demikian pula di Pemalang, warga menyambut 1 Suro (penanggalan Jawa) dengan ritual pengambilan air suci dari mata air di lereng Gunung Slamet.
Air suci itu kemudian diarak ke padepokan dan didoakan bersama sebagai simbol pembersihan diri dan harapan keselamatan bagi masyarakat.
3. Tradisi Gandulan dan Oseng Pepaya
Ketika Gunung Slamet memasuki status waspada, masyarakat di lereng selatan, terutama di Banyumas, melakukan tradisi Gandulan.
Dalam tradisi ini mereka memasak oseng pepaya muda atau lauk oseng dengan pepaya sebagai bahan pokok, kemudian lauk ini dikonsumsi secara bersama-sama sebagai bagian dari doa keselamatan agar Gunung Slamet tidak menebar bencana.
Tradisi Gandulan juga mencerminkan solidaritas warga yang merespons perubahan alam dengan ritual kolektif, sekaligus menjadi mekanisme budaya untuk menguatkan hubungan antar warga dan rasa kepedulian terhadap alam sekitar.
4. Budaya Konservasi: Penanaman Pohon dan Pelestarian Lingkungan
Selain ritual spiritual, masyarakat lereng Gunung Slamet aktif melakukan kegiatan konservasi alam yang dikombinasikan dengan unsur budaya.
Misalnya, di Dusun Sirongge, Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, terdapat kegiatan penanaman bibit pohon tahunan yang diprakarsai oleh Yayasan Dhalang Nawan bersama budayawan dan pegiat lingkungan.
Acara ini juga menyertakan elemen ritual tradisional, seperti penyisipan cokbakal (kendil berisi bahan simbolis) saat menanam pohon, sebagai lambang kebutuhan dasar manusia dan harapan akan kehidupan yang berkelanjutan.
Peraturan desa juga dibuat agar mata air, terutama Tuk Sikopyah, tetap terjaga kelestariannya.
Ada larangan tebang pohon atau merusak area sekitar mata air dengan sanksi hingga denda, untuk menjaga agar mata air tersebut tetap mampu menyediakan keperluan air bersih bagi ribuan jiwa di beberapa desa.
5. Tradisi Megalitik dan Akulturasi Kultural
Penelitian arkeologi juga mencatat keberadaan tradisi megalitik di kawasan Gunung Slamet yang menunjukkan pengaruh Hindu-Buddha.
Misalnya, telah ditemukan penggunaan batu lesung (mortar) dan menhir (batu panjang), yang digunakan dalam ritual kesuburan serta persembahan terhadap roh leluhur.
Konsep-konsep seperti lingga-yoni pun dipergunakan dalam praktik ritual yang diakulturasi dengan kepercayaan masyarakat lokal.
Tradisi-tradisi seperti ruwat bumi, sedekah bumi, ritual pengambilan air suci, tradisi gandulan, dan penanaman pohon, semuanya menunjukan bahwa masyarakat lereng Gunung Slamet hidup dalam harmoni antara kepercayaan, budaya, dan lingkungan.
(Alya Amirul Khasanah)